Monday, November 3, 2014
Jejak Blues dalam Gerak Bayangan Tangan
Bersamaan dengan itu, di layar kain putih yang disorot lampu dari baliknya, muncul bayangan tokoh utama pentas itu, Louis Armstrong yang berujud beruang kecil. Dengan gerak ritmis, tokoh beruang kecil itu bergerak seolah-olah tengah menyanyikan lagu tersebut.
Tak hanya sendiri, dalam pentas bertajuk 'Isn't This A Lovely Day' itu, Louis Armstrong muncul dengan beberapa tokoh satwa lain, seperti kepiting, laba-laba, jerapah, serta beberapa tokoh abstrak seperti boogie-woogie. Tokoh-tokoh tersebut muncul mengiringi gerak Louis Armstrong yang secara runtut tengah menyanyikan beberapa lagu jazz dan blues.
Tak seperti pentas teater bayangan pada umumnya, pada pentas yang digelar selama 2 hari sejak 26-27 Oktober tersebut, semua tokoh yang tampil diciptakan dari gerak tangan para pemain yang berada di balik layar kain putih.
Memang, Budrugana adalah kelompok teater bayangan tangan asal kota Gagra, Georgia. Sejak berdiri 17 tahun lalu, kelompok teater yang terdiri dari berbagai disiplin seni itu secara konsisten mementaskan kelihaian mereka dalam membentuk tokoh dan figur, mulai dari satwa hingga tokoh rekaan (abstrak-imajinatif) dengan menggunakan gerak tangan.
Dalam pentas berdurasi 80 menit itu, Sutradara Gela Kandelaki yang merupakan penggila musik jazz memang tidak hanya menampilkan ringkasan perjalanan hidup maestro jazz dan blues, Louis Armstrong saja. Lebih universal, dalam pentas tersebut lebih banyak bercerita tentang hakikat hidup, persahabatan, kebahagiaan, dan kesedihan. Latar belakang Louis Armstrong yang seorang Afro-Amerika menginspirasi Gela Kandelaki untuk membumbui pementasannya kali ini dengan kultur Afrika. Itu sesuai dengan karakter beragam satwa yang biasa dimainkan oleh Budrugana. Itulah sebabnya, dalam pentas tersebut, ia tak hanya menampilkan karakter-karakter satwa sebagai simbol Afrika, tapi ia juga menampilkan karakter-karakter abstrak seperti boogie-woogie, yang di kultur Afrika dikenal sebagai salah satu gaya dalam musik blues khas Afro-Amerika.
Karakter boogie-woogie tampil sebagai simbol kebahagiaan. Gerak dinamis dan lincah dari boogie-woogie disimbolkannya sebagai bentuk perayaan atas sesuatu. Tentu saja dengan iringan musik jazz yang up-beat, gerak karakter abstrak itu kian dinamis.
Sementara slah satu pemain dalam pentas tersebut, Paata Shengelia, menuturkan bahwa kisah hidup Louis Armstrong dinilainya sangat luar biasa dan inspiratif. Latar belakang ibu Armstrong yang seorang budak negro menjadikan kisah hidup Armstrong sangat dramatis dan laik untuk diangkat dalam sebuah pementasan. Pentas itu setidaknya menampilkan lebih dari 20 judul lagu blues dan jazz yang tak hanya menjadi backsound, tapi juga melebur pada naskah pementasan. Itulah sebabnya, hampir 90% adegan dalam pentas tersebut adalah lirik dari lagu jazz dan blues itu sendiri.
Lahir dari rahim teater bayangan
Dengan melihat teknis penampilannya, yakni dengan menggunakan medium kain putih dan sorot lampu dari baliknya, teater bayangan tangan (hand shadow theatre) ini bisa dikatakan sangat erat berhubungan dengan teater bayangan yang sebelumnya sudah muncul. Di Indonesia, teater bayangan lebih akrab pada seni pertunjukan wayang. G.A.J. Hazeu mengatakan bahwa wayang dalam bahasa/kata Jawa berarti: bayangan, dalam bahasa melayu artinya: bayang-bayang, yang artinya bayangan, samar-samar, menerawang. Bahasa Bikol menurut keterangan Profesor Kern, bayang, barang atau menerawang. Semua itu berasal dari akar kata "yang" yang berganti-ganti suara yung, yong, seperti dalam kata: laying (nglayang)=yang, dhoyong=yong, reyong=yong, reyong-reyong, atau reyang-reyong yang berarti selalu berpindah tempat sambil membawa sesuatu, poyang-payingen, ruwet dari kata asal: poyang, akar kata yang.
Menurut hasil perbandingan dari arti kata yang akar katanya berasal dari yang dan sebagainya tadi, maka jelas bahwa arti dari akar kata: yang, yung, yong ialah bergerak berkali-kali, tidak tetap, melayang. Wayang sendiri sebenarnya sangat erat kaitannya dengan perkembangan teater boneka. Betapapun, perangkat utama pertunjukan wayang adalah boneka. Dalam sejarahnya, teater boneka mulai populer di masa kejayaan Islam ketika abad pertengahan. Ketika itu, bentuk teater yang paling populer adalah teater wayang (pertunjukan boneka tangan, pertunjukan bayangan dan boneka ukir) dan pertunjukan yang dikenal sebagai ta'ziya, di mana aktor memainkan episode dari sejarah Islam.
Secara khusus, Syiah Islam memainkan episode syahidnya putra Ali R.A, Hasan bin Ali dan Husain bin Ali. Dalam perkembangannya, pertunjukan kemudian mengarah pada pertunjukan sekuler yang dikenal sebagai akhraja. Pertunjukan ini tercatat pada abad pertengahan, tepatnya ketika berkembangnya sastra adab, yang saat itu jauh lebih umum daripada teater boneka dan teater ta'ziya.**
Tuesday, September 30, 2014
Kecemasan Masa Depan Para Manusia Koran
Teknologi adalah musuh sekaligus sahabat bagi manusia. Pesan itulah yang kiranya ingin disampaikan oleh pantomimer (sebutan bagi seniman pantomim) asal Yogyakarta, Jemek Supardi melalui pentas 3 repertoarnya 'Manusia Koran, Tukang Cukur, dan Kotak-Kotak'.
Pojok Benteng Timur yang biasa sunyi di tengah riuh kota Jogja, Kamis (26/9) malam itu penuh sesak. Sorot lighting yang redup dan deretan lampion mempercantik salah satu titik bersejarah Yogyakarta itu.
Setelah dibuka oleh penampilan grup musik Adakalanya, pentas utama pun segera dimulai. Jemek Supardi mulai masuk ke area panggung yang berpropertikan rangka kubus beragam ukuran serta 3 buah manekin berbungkus koran. Iringan backsound membuat setiap gerak Jemek malam itu terasa lebih dramatis.
Tak hanya sendiri, aksi gerak pantomim Jemek Supardi malam itu disusul oleh 2 orang seniman pantomim lainnya. Alhasil, perpaduan gerak Jemek Supardi dan kedua seniman itu membuat pertunjukan pantomim itu terasa lebih kompleks.
Repertoar pertama, 'Manusia Koran' dibuka dengan aksi ketiga seniman pantomim Jogja itu dengan memeragakan adegan laiknya seorang pedagang koran. Dengan backsound keramaian lalu lintas membaya imajinasi penonton pada kerasnya kehidupan yang dilakoni oleh para penjual koran yang diperankan ketiga seniman itu.
Tak cukup disitu, Jemek kemudian menghamparkan lembaran koran besar untuk menutupi tubuh kecilnya. Tidak lama, barulah kepalanya nampak muncul dari balutan koran itu. Ia muncul sambil memegang sebuah tablet. Dengan mimik wajah girang, ia memainkan gadget itu. Melalui adegan ini, Jemek ingin menyampaikan pesan bahwa keberadaan para penjual koran kian terpinggirkan oleh kemajuan teknologi. "Ngapain orang susah-susah beli-baca koran. "Tinggal buka internet dari gadget sudah bisa baca koran. Kalau terus seperti ini, bagaimana nasib para penjual koran ini," ucap Jemek saat ditemui wartawan usai pentas.
Repertoar kedua yang berjudul Tukang Cukur tak dibawakan oleh Jemek Supardi, melainkan oleh seorang seniman pantomim muda, Vicky Tri Sanjaya. Aktor teater muda Yogyakarta ini memerankan seorang tokoh Tukang Cukur yang kian sulit mencari pelanggan. Tentu saja, Tukang Cukur yang diperankannya di sini bukanlah tukang cukur yang menunggu pelanggan dalam sebuah salon kecantikan atau barbershop, melainkan seorang tukang cukur keliling yang biasa mangkal di bawah pohon-pohon besar.
Backsound hujan dan petir kian membuat akting Vicky terlihat lebih dramatis. Mimiknya yang sedih lantaran harus berjuang mencari pelanggan di tengah derasnya hujan menyiratkan beratnya hidup seorang tukang cukur keliling yang keberadaannya kini memang kian terpinggirkan.
Barulah, di repertoar terakhir berjudul Kotak-Kotak, Jemek kembali tampil bersama kedua seniman pantomim itu. Ketiganya memanfaatkan keberadaan rangka-rangka kubus beragam ukuran itu sebagai media akting. Pentas 3 repertoar yang berdurasi sekitar 45 menit itu jelas sekali terasa aroma kritik terhadap manusia yang mulai kehilangan kemanusiaannya lantaran iming-iming teknologi.
Teknologi hadir memang menjanjikan dan menawarkan segala kemudahan dalam menjalani hidup. Manusia yang tak bisa dengan dewasa menyikapinya dipastikan akan kehilang sifat kemanusiaannya. Seniman asli Pakem, Sleman itu berusaha mengingatkan bahwa kondisi manusia kini telah terkotak-kotakkan. Hanya saja, sedikit manusia yang sadar bahwa pada dasarnya kotak kecil yang menjadi esensi kehidupan telah menanti manusia. Kotak itu ialah bernam kematian. Kalau sudah bicara modernisasi, manusia memang kerap seolah lupa dengan kotak yang satu ini.
Saat ini, manusia memang telah mengaburkan esensi dari segala aspek kehidupannya. Contohnya adalah di repertoar ke-2 berjudul 'Tukang Cukur'. Manusia kini telah mengaburkan esensi dari cukur rambut itu sendiri. Cukur rambut yang esensi sebenarnya adalah memotong rambut agar terlihat rapi, kini telah bergeser ke arah gengsi dan gaya hidup. Akibatnya, manusia memilih untuk potong rambut di salon daripada di tukang cukur keliling.
Pantomim dan ruang publik
Jemek Supardi memang dikenal sebagai seorang pantomimer jalanan. Ia lahir dan dibesarkan di jalanan. Maka, di jalanan pula lah ia ingin berkarya. Melalui pantomim, ia percaya dan yakin bisa memberikan hiburan sekaligus pencerahan kepada publik. Ruang publik seperti taman kota, trotoar, hingga pusat perbelanjaan menjadi panggung megah baginya. Dengan mementaskan karyanya di ruang publik, ia bisa berinteraksi langsung dengan penonton.
Jemek Supardi sendiri menekuni bidang pantomim secara total hingga dia merasa bahwa pantomim adalah bagian dari hidupnya. Menurut Jemek, di Indonesia ini belum ada orang yang secara konsisten menekuni bidang tersebut. Pria kelahiran Yogyakarta, 14 Maret 1953 ini semula menekuni teater tetapi kemudian dia merasa ada kekurangan dalam dirinya untuk mendalami bidang tersebut, terutama dalam hal menghafal naskah. Ia pun lantas menjatuhkan pilihan pada seni pantomim yang lebih mengandalkan gerak tubuh. Pantomim telah ditekuni selama kurang lebih tiga puluh tahun.
Sepanjang waktu itu, tidak terbersit pikirannya berpindah profesi demi memegang teguh prinsip dan konsistensinya pada pilihan hidup, yakni berpantomim. Jemek menempuh pendidikan dasarnya hingga berakhir di SMSR.
Selanjutnya ia lebih fokus pada dunia teater, terutama pantomim. Keahlian itu ia dapatkan sendiri atau belajar secara otodidak. Ia menciptakan seni dalam bahasa gerak berdasarkan imajinasinya. Tidak ada tokoh yang memberi ilmu tentang pantomime kepadanya. Karya seni mime Jemek Supardi biasanya dibawakan tunggal dan kolektif. Selama 35 tahun ia berkesenian, telah banyak karya telah dilahirkan, antara lain: Sketsa-sketsa Kecil (1979), Dokter Bedah (1981), Perjalanan Hidup Dalam Gerak (1982), Jemek dan Laboratorium, Jemek dan Teklek, Jemek dan Katak, Jemek dan Pematung, Arwah Pak Wongso, Perahu Nabi Nuh (1984), Lingkar-Lingkar, Air, Sedia Payung Sesudah Hujan, Adam dan Hawa, Terminal-Terminal, Manusia Batu (1986), Kepyoh (1987), Patung Selamat Datang, Pengalaman Pertama, Balada Tukang Becak, Halusinasi, Stasiun, dan Wamil (1988), Soldat (1989), Maisongan (1991), Menanti di Stasiun, Sekata Katkus du Fulus (1992), Se Tong Se Teng Gak (1994), Termakan Imajinasi (1995) Pisowanan, Kesaksian Udin, Kotak-Kotak, Pak Jemek Pamit Pensiun (1997), Badut-Badut Republik atau Badut-Badut Politik, Bedah Bumi atau Kembali ke Bumi, Dewi Sri Tidak menangis, Menunggu Waktu, Pantomim Yogya-Jakarta di Kereta (1998), Kaso Katro (1999) Eksodos (2000), 1000 Cermin Pak Jemek (2001), Topeng-topeng (2002), Air Mata Sang Budha (2007), Mata-Mati, Maesongan#2, Menunggu (Kabar), dan Kematian (2008).**
Foto-foto lihat di sini
Monday, August 4, 2014
Peristiwa Kotabaru Dalam Bingkai Kethoprak Ringkes
Belum juga bendera merah putih dinaikkannya, salah seorang kawannya mengingatkan pemuda itu untuk tak gegabah menurunkan bendera Jepang. Berdasar maklumat Sri Sultan Hamengku Buwono IX, penurunan bendera hanya boleh dilakukan jika mendapat dukungan dari seluruh rakyat Jogja. Adegan kemudian beralih pada sosok Siti Ngaisah. Seorang perempuan muda yang dengan gagah berani menurunkan bendera Hinomaru dan menggantinya dengan bendera merah putih.
Itulah penggalan adegan pembuka dalam pementasan Kethoprak Ringkes Tjap Tjonthong yang bertajuk Kotabaru Lunas Janji yang digelar di Taman Budaya pukul 20.00, sejak 1-2 Agustus lalu.
Sutradara sekaligus penulis naskah Pementasan Susilo Nugroho membenarkan bahwa pementasan itu memang ditulis berdasarkan kisah sejarah. Dikatakannya, kisah yang diadaptasinya itu merupakan peristiwa bersejarah yang melibatkan laskar rakyat Jogja menghadapi pasukan Jepang yang ketika itu tengah menduduki wilayah Jogja dan berpusat di kawasan Kotabaru. Sebagai catatan, persitiwa heroik itu sendiri terjadi pada 5 Oktober.
Oleh karena itulah, dalam penulisan naskahnya, seniman yang akrab disapa Den Baguse Ngarso itu mencoba untuk mencari referensi data tak hanya dari buku-buku sejarah saja, melainkan juga dari hasil penuturan beberapa pelaku sejarah. Akan tetapi, ia mengaku tidak mendapatkan banyak informasi terkait hal itu.
Itulah sebabnya, proses penulisan naskah untuk pementasan itu, diakuinya memakan waktu yang cukup lama, yakni mencapai 3 bulan. Namun, untuk proses latihannya sendiri, ia mengaku tak lebih dari sebulan saja.
Dalam pementasan itu, Jepang yang sudah kehilangan kekuasaan politiknya memang seharusnya tidak lagi menduduki Indonesia. Namun nyatanya, Jepang masih saja bersikap seolah mereka tetap memiliki kekuasaan atas tanah air ini. Mereka berusaha melucuti senjata milik rakyat dan laskar Jogja. Hal inilah yang memicu kemarahan masyarakat Jogja.
Akibatnya, laskar dari seluruh golongan dan usia pun bergerak. Dalam pementasan itu, Susilo Nugroho memang tidak menampilkan keseluruhan tokoh yang terlibat dalam adegan peristiwa bersejarah tersebut.
| Susilo Nugroho |
Sebagai pementasan, Susilo hanya hanya menampilkan beberapa tokoh saja, seperti misalnya Faridan Noto yang dikenal sebagai pemuda gagah berani yang mempertaruhkan nyawanya demi kemerdekaan Jogja dari pendudukan Jepang. Selain itu ada pula Umar, Sudarsono, Retno Wilis, dan Sampiran. Mereka kemudian menggalang kekuatan dengan caranya sendiri tanpa komando yang jelas, namun tetap kompak untuk mencapai tujuan yang sama.
Di luar tokoh-tokoh fakta tersebut, Susilo ternyata juga menyisipkan seorang tokoh rekaan bernama Kamuna yang diperankannya sendiri. Melalui tokoh itulah, Susilo ingin menyampaikan pesan moral bahwa ketika masa perjuangan, rakyat bisa bersatu. Akan tetapi ketika tujuan kemerdekaan itu telah dicapai, sangat mungkin rakyat akan kembali terpecah. Perpecahan bukan lagi disebabkan oleh kehadiran penjajah, melainkan disebabkan oleh kepentingan rakyat sendiri. Setidaknya, dari tokoh Kamuna inilah Susilo ingin menggambarkan kondisi itu.(JUN)
lihat galeri foto di galeri foto
Lukisan Kaca, Antara Eksistensi dan Saksi Sejarah Seni
| Foto: Harian Jogja |
Terkait hal ini, peneliti dari Institut Nasional des Laungues et Civilisations Orientales, Paris, Jerome Samuel yang pernah melakukan penelitian lukisan kaca di Indonesia, memperkirakan bahwa lukisan kaca paling cepat masuk ke Indonesia pada dasawarsa terakhir abad ke-19.
Menurutnya, sampai paruh pertama abad ke-19 kaca masih merupakan sejenis barang atau bahan yang mewah dan sangat mahal, rasa mewah terhadap bahan kaca itu terjadi baik di Indonesia maupun di Asia, termasuk Cina dan Jepang.
Samuel pernah mencari data tentang kaca dalam arsip laporan tahunan VOC di Batavia, untuk kantor pusat di Amsterdam. Di dalam laporan itu, terdapat beberapa catatan tentang import barang-barang kaca dari Belanda atau Eropa untuk dijual atau diberikan sebagai hadiah kepada raja-raja atau sultan-sultan di Indonesia. Tapi VOC lebih banyak menjual atau memasok kaca ke India, Cina, dan Jepang, Di Indonesia sendiri kaca tetap langka sampai awal abad ke-20, kecuali untuk kalangan terbatas.
Di Jawa, menurut Samuel, keberadaan lukisan kaca dapat dibuktikan dengan keikutsertaan Jat, seorang pelukis dari Kupang Praupan, Surabaya, yang ikut serta dalam Pasar Malam tahunan di Surabaya, baru pada tahun 1908.
Keberadaan tersebut diabadikan dalam foto laporan acara tersebut. Hardiman juga menambahkan bahwa, ada cerita yang berbeda dengan Samuel, yaitu tentang lukis kaca dari pantai Kuta, Bali. Tersebutlah seorang perempuan cantik keturunan Cina. Perempuan nan jelita ini dinikahi laki-laki berkebangsaan Denmark, Mads Lange. Suatu hari, tahun 1884, perempuan cantik ini dilukis dia atas permukaan kaca oleh seorang pelukis Cina. Kemudian hasil lukisan kaca itu, oleh berbagai kalangan dianggap sebagai lukisan kaca pertama yang ditemukan di Indonesia. Kini lukisan tersebut tersimpan di suatu museum di Denmark.
Sejarah lukisan kaca Indonesia, sebagian besar masih tersembunyi. Tetapi pada kenyataannya lukisan kaca di Jawa pernah mengalami masa jaya pada tahun 1930-an hingga akhir 1950-an adalah fakta yang kerap diungkap. Pada masa itu, lukisan kaca bertalian dengan tanda status sosial tertentu. Pemilik lukisan kaca adalah mereka yang sukses berdagang, telah naik haji, atau sekurang-kurangnya telah menikah. Lukisan kaca juga berfungsi sebagai penguat hubungan batin antara pemilik lukisan kaca dengan tokoh wayang dalam lukisan yang dimilikinya.
Perlu diketahui tema-tema lukisan kaca yang dikoleksi oleh para orang kaya di Jawa, pada umumnya lukisan Hanoman, Kresna, Bratasena, Semar dan sebagian yang lain tema lukisan diambil dari cerita Ramayana dan Mahabarata. Selain itu juga ditemukan lukisan berupa dua pengantin, legenda para Nabi, lukisan masjid Demak, kaligrafi Arabeska dan sebagainya.
Dengan tema-tema tersebut lukisan kaca dapat berkembang dengan baik sampai tahun 50-an. Keberlanjutan tema yang disukai masyarakat masih baik, sampai awal tahun 70-an. Mulai tahun 70-an muncul nama-nama pelukis kaca yang cukup dikenal masyarakat, seperti Karto, Sastradiharjo (Sastra Gambar), Maryono, Yazid, Maruna, Sudarga, Harun, Rastika dan sebagainya. Selain itu, belakangan muncul nama yang berasal dari kalangan kampus seni juga muncul, seperti Haryadi Suadi, Suatmaji, AB Dwiantoro, Arwin Hidayat, Ismoyo, Supono, Paikun, Mahyar, Murjiyanto, Pracoyo, Priyo Sigit, Rohman, Subari dan sebagainya, yang terus ikut menyemarakkan seni lukis kaca sampai jelang tahun 90-an.
Sementara perkembangan seni lukis kaca di Bali, juga kurang lebih sama seperti di daerah lain di Indonesia. Di Bali seni lukis kaca dapat dilacak keberadaannya di wilayah Buleleng, tepatnya di Desa Nagashepa. Dari sana lahir nama-nama besar pelukis kaca seperti Jro Dalang Diah (pendiri komunitas pelukis kaca Nagashepa), I Kadek Suradi, I Nengah Silib, I Ketut Samudrawan, dan I Ketut Santosa dan sebagainya. Dari aspek kenyataan sejarah inilah lukis kaca berjalan ke arah waktu kedepan tiada henti dengan kekuatannya sendiri.
Di era 1950-an hingga akhir tahun 1970-an pasar lukisan kaca masih berjaya dan banyak diminati. Lukisan kaca banyak dibeli, dikoleksi oleh kelompok petani kaya, yang mempunyai sawah berhektar-hektar. Para petani yang kaya itu umumnya tinggal di desa-desa di wilayah Kabupaten. Pada waktu itu, para pelukis kaca kerap menjajakan lukisan kaca ke desa-desa di kecamatan, bahkan kelurahan. Tak jarang, petani sukses itu sendiri yang datang ke desa dimana para pelukis kaca berkarya, mereka memesan lukisan kaca dengan tema-tema yang sesuai dengan permintaan. Inilah keadaan, dimana komunikasi antara perupa dan petani (masyarakat) menjadi aktif, sehingga untuk memudahkan bagi pelanggan, maka para pelukis membawa karya-karyanya ke pasar, untuk dijualnya didekatkan dengan pembelinya.
Pendekatan komunikasi melalui pasar ini terkait dengan citra status sosial petani (pasar) yang menjadi meningkat dengan memajang lukisan kaca di rumahnya. Khususnya di Bali, lanjut Hardiman, pasar itu kini adalah cerita lama yang telah mati.
Pasar seni lukis kaca lama itu pun kini diganti dengan pasar baru, yang hanya diminati orang asing, itu pun orang-orang yang memang mempunyai perhatian terhadap seni tradisi, para peneliti, antropolog, atau seniman yang punya kepentingan khusus dengan lukisan kaca.
Sedikit kaum intelektual lokal yang mencintai tradisi, yang kemudian mengoleksi lukisan kaca barang satu atau dua lembar saja. Dan pasar baru itupun jumlahnya sungguh amat sedikit, bisa dihitung dengan jari. Di Bali, hingga saat ini komunitas seni lukis kaca yang masih hidup hanyalah di desa Nagasepaha, Buleleng. Di desa yang terletak tujuh kilometer ke arah Timur dari kota Singaraja itu, terdapat belasan pelukis kaca yang aktif berkarya juga berpameran. Namun demikian, seni lukis kaca merekapun suatu saat akan terpinggirkan oleh arus utama seni lukis masa kini. Bahkan medan sosial seni rupa Bali cenderung memosisikan seni lukis kaca sebagai seni nista, seni kelas dua, milik para pengrajin belaka.
Keadaan itu juga terjadi di hampir seluruh pusat-pusat lukis kaca di Jawa, sebagian besar mereka beralih profesi untuk menjadi petani buruh, merantau di kota atau tetap membuat lukisan bila ada pesanan. Memang ada usaha untuk melestarikan lukis kaca, khususnya lembaga pendidikan seni dengan membuka mata pelajaran seni lukis kaca, seperti di beberapa sekolah menengah seni rupa dan kerajinan, bahkan lembaga pendidikan tinggi seperti ISI Solo, juga mengkhususkan kearah pelestarian seni tradisi, termasuk mata kuliah lukis kaca. Tetapi usaha-usaha tersebut, belum membuahkan gaung yang walau telah membumi di persada Nusantara.(JUN)
Membaca Karya Para Penjinak Kaca
| Salah seorang pengunjung mengamati salah satu karya seni lukis kaca dalam 'Penjinak Kaca' di Tembi Rumah Budaya |
Tuesday, July 22, 2014
Memandang Arsitektur dari Sudut Pandang Seni
| David Hutama saat menjadi pemateri dalam Diskusi Guru Muda di Langgeng Art Foundation, Sabtu (19/7). |
Setidaknya ada 3 hal penting yang harus diperhatikan. Selain harus dikenal terlebih dulu konsep arsitektur, bagaimana proses penciptaannya, serta yang terakhir adalah bagaimana mewacanakan persepsi ruang arsitektur itu dalam sebuah apresiasi seni. Dengan begini, substansi dari arsitektur itu sebenarnya ada pada ruang. Pada tataran inilah, seorang arsitek bisa dicermati gagasannya sebagai seorang seniman juga.
Sebagai subjek, karya aristektural merupakan ruang yang terbentuk oleh keterbangunannya itu sendiri. Sedangkan sebagai objek, karya aristektural adalah sebuah bangunan. Persoalannya kini, kedua hal ini tidak dapat dipisahkan.
Begitu pula terkait kerja proses penciptaannya, pemilihan material menjadi daya kuat yang mempengaruhi karakteristik karya arsitektural itu sendiri. Menurutnya, pemilihan material itu memungkinkan munculnya karakter-karakter penciptaan yang lebih baru. Dari sinilah, ia menganggap kerja arsitektural itu tak ubahnya seperti seorang perupa dalam menciptakan sebuah karya instalasi berukuran besar.
Dalam buku De Architechtura Libri Decem karya Marcus Vitruvius Pollio, pengertian arsitektur memang lebih ditekankan kepada keterbangungan/ketukangan. Lebih tepatnya tentang bagaimana seseorang yang menyandang status sebagai arsitek memiliki kemampuan dalam merangkai material guna menciptakan sebuah bangunan yang megah. Penekanan ini cukup mudah dipahami lantaran adanya batasan teknologi dan materian bangunan yang tersedia.
Pada masa Vitruvius, bisa diduga material bangunan utama hanya meliputi 2 hal saja, yakni bebatuan dan kayu. Dengan 4 iklim yang terdapat di tanah Italia, kayu jelas bukan pilihan material yang baik. Oleh karena itu batu menjadi pilihan utama untuk mendirikan bangunan.
Dari sinilah terlihat betapa mendirikan bangunan itu adalah wilayah bagi orang atau pihak yang memiliki kekuasaan. Hal ini juga terlihat di kawasan Asia. Bangunan candi yang memanfaatkan batu-batu besar jelas tak berdiri begitu saja. Peran massal dan pengaruh kekuasaan menjadi sangat penting dalam proses pendirian bangunan itu (candi). Akan tetapi, khusus dalam hal pembangunan candi ini, kekuasaan yang dimaksud bukanlah kekuasaan dalam arti politis, melainkan pada kekuasaan dalam arti penjaga dogma.
Itulah sebabnya, Victor Hugo dalam The Hunchback of Notredame membahas secara khusus peran arsitektur tersebut. Hugo berargumen bahwa arsitektur adalah penjaga pesan/dogma yang lugas dan terbuka. Namun kehadiran karya-karya tulis/cetak yang dinilai lebih murah, mudah dan cepat, kenyataannya akan mematikan fungsi arsitektur itu sendiri.
Fungsi representasi kekuasaan inilah yang membuat arsitektur kemudian tak bisa dilepaskan dari tradisi dan kebudayaan dimana ia berada. Tradisi dan kebudayaan jelas akan sangat memperngaruhi dimensi keterbangunan dan makna dari arsitektur itu sendiri.
Dicontohkannya adalah karya instalasi bertajuk Instalasi Paviliun Indonesia karya Avianti Armand yang dipamerkan di Venice Biennale 2014. Karya yang berupa instalasi yang memanfaatkan bangunan bekas gudang senjata seluas 500 meter persegi.Dengan bidang kaca yang dipakai untuk membelah ruangan yang remang-remang, ditambah dengan narasi materi yang diproyeksikan di bidang-bidang kaca yang dibiarkan memantul ke arah tanah dan dinding yang kasar, ia menilai karya arsitektural itu adalah pembuktian bahwa sebuah karya arsitektur ternyata mampu menciptakan sebuah ruang yang bisa diapresiasi dalam ranah seni.
Pada akhirnya, dengan meminjam pendekatan reduksi radikal dari Rene Descartes, bahwa yang otentik milik arsitek dan arsitektur hanyalah gagasan dan wujud dari ruang arsitektur tersebut saja. Keterbangunan dari bentuk dan kerapihan dari sebuah pengerjaan detil belum tentu karena gagasan arsitek, dan belum tentu juga menjamin hadirnya arsitektur yang baik.
Akan tetapi, kesadaran dan kepekaan akan dialog tubuh dan ruang, akan menggiring terjadinya ruang arsitektur yang baik. Oleh karena itu, jika arsitektur hendak dipahami sebagai sebuah karya seni, maka sudah jelas ruang arsitektur adalah substansi utama dari seni berarsitektur.**
Rayakan Kebebasan, Ekspresikan Kenangan
| Salah satu adegan dalam pentas Departure |
Sorot lighting mempertajam detail tegasnya akar-akar tunjang pohon beringin. Gerak tubuh tanpa dialog para aktor dan iringan musik dengan tempo rendah membuat suasana malam itu kian terasa khidmat dan mistis.
Dengan gerak tubuhnya masing-masing mereka seperti ingin menyampaikan suatu pesan. Seperti tema pertunjukan itu sendiri, yakni Departure, mereka seperti ingin menunjukkan kepada penonton, bahwa hakikat keberangkatan itu sendiri bukanlah dimana kaki kita akan berpijak nantinya, tapi lebih pada bagaimana cara kaki kita melangkah ke titik yang akan dituju. Di situlah peran dari kenangan dan ingatan. Inilah yang hendak disampaikan 8 aktor dalam pertunjukan yang melibatkan 3 kelompok teater asal DIY itu.
Pertunjukan dimulai dengan aksi gerak tubuh salah satu aktor berkostum perempuan. Aktor ini membuka pertunjukan dengan melakukan eksplorasi terhadap reranting pohon beringin menjuntai seperti tirai, yang kemudian diikuti oleh penampilan aktor lainnya.Uniknya, kedelapan aktor dalam pertunjukan arahan sutradara sekaligus aktor teater asal Thailand, Kage Mulvilai itu tidak hanya berpusat pada Beringin Sukarno saja. Mereka juga bebas melakukan eksplorasi terhadap beberapa pohon lainnya yang ada di sekitar pohon beringin itu.
Setelah hampir 1,5 jam, pertunjukan pun ditutup dengan penampilan sang sutradara, Kage Mulvilai yang menampilkan gerak tubuh tanpa dialog. Melalui gerak tubuhnya yang dinamis, seniman yang berproses di kelompok teater Be Floor Thailand itu seperti hendak menampilkan kenangannya akan masa-masa otoriter di negaranya yang memang hingga kini masih dirasakannya memberangus kebebasan berekspresi para seniman seperti dirinya. Semua orang punya kenangan dan ingatan. lihat parade foto
Begitu juga saya. Melalui pentas inilah saya ingin menunjukkan ingatan saya itu melalui tubuh saya," ungkap Kage saat berbincang dengan Harian Jogja seusai pentas.Kage juga menambahkan pentas yang digelarnya bersama 3 kelompok teater DIY itu merupakan salah satu rangkaian kegiatan riset yang dilakukannya beberapa kota di Indonesia. Diakuinya, kini ia memang tengah melakukan riset tentang kebebasan berekspresi di Indonesia.
Dalam sejarahnya, Indonesia pernah mengalami masa-masa kelam diberangusnya kebebasan berekspresi ini. Dari sinilah, Kage sepertinya ingin mewujudkan hal itu dalam bentuk pentas. Termasuk dengan pemilihan tema pertunjukan, Keberangkatan [Departure]. Dalam pementasan teater tubuh itu, Kage ingin menyampaikan pesan bahwa tema Departure jangan hanya dimaknai secara leksikal oleh penonton. Ia ingin penonton memaknainya lebih personal.
Tentu saja, hal itu bisa dilihat dari tiap gestur dan akting tubuh yang dilakonkan setiap aktornya. Tema Departure dimaknainya sebagai langkah awal untuk menuju kebebasan manusia untuk berekspresi. Bagi Kage, langkah awal itu bisa diwujudkan dalam bentuk pengungkapan atas kenangan dan ingatan seseorang akan masa lalunya.
Mengenai konsep pertunjukan yang tanpa dialog, Kage menuturkan bahwa pihaknya sama sekali tidak memaksakan konsep pertunjukan kepada seluruh aktor. Ia memberikan kebebasan kepada aktor untuk mengekspresikan apapun yang menjadi ingatannya akan masa lalu. "Saya rasa, gerak tubuh adalah memang cara paling jitu untuk mengungkapkan masa lalu. Bagaimanapun, keberangkatan itu selalu dimulai dari ingatan dan kenangan," tegasnya.**
Wednesday, October 31, 2012
Menata Ulang Festival
Thursday, June 2, 2011
Lagu Daerah Dan Globalisasi
Rek ayo rek,
Mlaku-mlaku nang Tunjungan.....
Tidak asing tentunya, bagi masyarakat Surabaya dengan lagu itu. Hingga kini, lagu itu memang masih sangat dikenal oleh masyarakat, khususnya masyarakat Surabaya sebagai salah satu dari sekian banyak lagu yang merupakan lagu daerah asal Surabaya.
Memang lagu itu mengandung semangat kedaerahan yang cukup kental, mulai dari pemakaian diksi yang berlogatkan Surabaya hingga lirik yang menggambarkan semangat Arek-Arek Suroboyo yang terkenal egaliter.
Sebagai bagian dari perkembangan peradaban, lagu daerah terbilang memegang peranan yang cukup penting. Memang, pada dasarnya, manusia merupakan makhluk yang suka akan keindahan serta keselarasan. Oleh karena itulah, kesenian menjadi hal yang senantiasa menyertai perkembangan peradaban manusia.
Tidak terkecuali juga musik atau tembang. Sebagai salah satu bagian dari kesenian, musik atau tembang merupakan salah satu bagian kesenian yang memang cukup bisa diterima oleh masyarakat. Buktinya, adalah dalam sejarah peradaban manusia, musik menjadi sarana penting dalam upaya aktualisasi diri. Oleh karena itulah tidak heran, jika awalnya, musik muncul sebagai sarana ritual yang bersifat sakral. Hal ini disebabkan bunyi-bunyian yang muncul dari berbagai alat yang diperlakukan secara khusus hingga menimbulkan bunyi, ternyata adalah hal yang menarik sekaligus ‘ajaib’. Inilah yang oleh manusia kemudian dianggap sebagai hal yang bersifat magic. Sejak itu kemudian, bagi sekelompok orang, irama dan nada tertentu dianggap memiliki kekuatan gaib. Sehingga muncul pula
Seiring dengan perkembangan peradaban serta kualitas intelektual manusia, musik pun mengalami banyak sekali metamorfosa. Tidak lagi bermuatan religius dan spritual. Musik menjadi bernuansa lebih profan. Itulah yang memunculkan anggapan bahwa musik itu universal.
Sebagai bagian dari perkembangan jaman, maka era yang oleh masyarakat kini kerap disebut sebagai era modern ini, musik-musik lama yang kerap disebut sebagai musik tradisi dicap sebagai musik kuno dan tidak mampu mengikuti apa kemauan jaman.
Padahal musik tradisi, merupakan identitas asli bangsa ini. Sebab melalui musik tersebut, sejarah dan semangat bangsa tergambar serta dapat dijadikan sebuah motivasi bagi generasi-generasi selanjutnya, sehingga muncul rasa bangga akan bangsa mereka sendiri.
Misalnya, lagu Rek Ayo Rek dan Semanggi Suroboyo yang memang kental dengan nuansa Surabaya. Selain itu juga lagu-lagu dari daerah lain seperti Tanduk Majeng (Madura), Bulan Andung-Andung (Banyuwangi) dan beberapa lagu-lagu daerah lain seperti Bengawan Solo, Gambang Suling, Dondhong Opo Salak, Gundhul Pacul, Lir Ilir, Pitik Tikung, dan lain sebagainya.
Lagu-lagu itu dikatakan sebagai lagu daerah, karena memang kebanyakan menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa pengantarnya. Selain itu, jika diperhatikan lebih detail, musik dan irama yang mengiringi lirik-lirik berbahasa daerah tersebut adalah musik dan irama yang bernuansakan etnik serta lokalitas daerah yang bersangkutan.
Inilah yang kemudian menjadi batasan sebuah lagu dapat dikatakan sebagai lagu daerah. Meski tidak bersifat formal, namun batasan ini secara tidak langsunng telah disepakati oleh banyak pihak, mulai dari musisi, pengamat, hingga masyarakat luas. Mereka seperti secara kompak menganggap sebuah lagu bisa dikatakan lagu daerah jika menggunakan bahasa daerah serta diiringi dengan menggunakan musik khas daerah.
Akan tetapi, kemudian muncul perdebatan, khususnya mengenai musik khas daerah. Bagi sebagian pengamat, dengan dalih multikultural yang dimiliki bangsa ini, kemudian mereka menganggap musik tidak bisa lantas dijadikan batasan bagi upaya identifikasi sebuah lagu daerah.
Hal ini disebabkan, di beberapa daerah, musik tentu saja memiliki perbedaan karakter di masing-masing daerah. Memang, tidak bisa disamaratakan, bahwa musik tradisi, khususnya yang ada di Jawa, pasti menggunakan gamelan sebagai instrumennya.
Dijelaskan oleh Sabar, S.Sn, seorang staf pengajar STKW, masing-masing daerah memiliki karakter dan tradisi bermusik yang berbeda-beda. Dicontohkannya, tradisi bermusik daerah Mataraman tentu sudah berbeda daerah Pandalungan. ”Gamelan Mataraman dengan Pandalungan sudah berbeda nadanya. Ini yang membuat kemudian musiknya terdengar tidak sama,” ujarnya.
Ditambahkannya, musik yang mengiringi sebuah lagu daerah selain merupakan hasil kreatifitas musisinya, juga merupakan tradisi yang pasti akan diteruskan oleh generasi-generasi berikutnya. ”Di Gresik, dan Bawean misalnya. Tradisi musik Duk-Duk tentu akan terus dipakai sebagai identitas lokal daerah mereka. Karena itu sudah menjadi tradisi,” tambahnya.
Selain itu, tidak berbeda dengan pernyataan Sabar, Kukuh Setyo Budi, seorang seniman tradisi juga berpendapat bahwa yang pasti bisa dijadikan batasan lagu daerah adalah hanya aspek bahasa saja. Menurutnya, bahasa daerah yang dipakai seorang musisi dalam lagu-lagunya adalah memang untuk menegaskan bahwa lagu tersebut memang tergolong lagu daerah.
Tuturnya, bahasa daerah merupakan syarat wajib bagi sebuah lagu daerah. Setidaknya, meski tidak seluruh lirik menggunakan bahasa daerah, namun semangat yang mungkin menurut Kukuh bisa dituangkan dalam wujud logat sudah bisa menjadi patron dalam identifikasi sebuah lagu daerah.
Sedangkan musik, baginya yang juga merupakan seorang pencipta lagu daerah, lebih merupakan buah eksplorasi dari seorang musisi. Inilah yang menurutnya, musik yang meruapakan rangkaian dari titi nada tidak bisa dijadikan sebuah batasan bagi sebuah lagu bisa dikatakan sebagai lagu daerah.
Dirinya mencontohkan, pentatonis, sebagai irama yang yang memang mendominasi lagu daerah tidak bisa lantas dijadikan sebagai patokan lagu daerah. Buktinya banyak pula lagu daerah yang memang diciptakan dengan nada dasar pentatonis, bisa dimodifikasi sedemikian rupa menjadi diatonis. ”Dengan tanpa menghilangkan ruh slendro-nya, sebuah lagu daerah bisa lho jadi pelog,” terangnya.
Jadi, sebenarnya, lagu daerah yang memang dikhawatirkan akan luntur ditelan arus modernitas, tentunya tidak akan terjadi. Apalagi melihat kondisi sekarang, yang memang sudah banyak bermunculan lagu-lagu dengan mengangkat tema lokal kedaerahan masing-masing, menunjukkan indikasi bahwa lagu-lagu daerah semakin banyak peminat dan pendengarnya. Ini mirip dengan optimismedari musisi dan pencipta lagu Jawa, Didi Kempot. ”Lagu daerah masuk industri musik, kenapa engga?” ujarnya.
Seni: Sebuah Absurdisme Tanpa Apresiasi

Tidak ada hukuman yang lebih mengerikan daripada sekadar pekerjaan yang tak berguna. Ketika Sisifus dihukum Dewa untuk terus menerus mendorong sebuah batu besar ke puncak sebuah gunung. Dari puncak itu, kemudian, oleh gravitasi, oleh beratnya sendiri batu itu kemudian kembali jatuh ke dasar gunung.1
Adalah sebuah kekonyolan yang sangat repetitif namun sekaligus begitu arif. Atau mungkin sebuah kearifan yang begitu konyol yang sangat repetitif. Sungguh, tak ada istilah yang tepat untuk mengatakan apa yang telah terjadi itu selain absurd.
Jika membuka lelembar kamus leksikan, maka bisa didapat dengan sangat definitif apa itu absurd. Absurd is not reasonable, foolish and ridicoulus.2 Atau secara rinci bisa berarti:
“Absurd is having no rational or orderly relationship to human life: meaningless (an absurd universe). Lacking order or value (an absurd existence). absurdism is a philosophy based on the believe that the universe is irrational and meaningless and that the search for order brings the individual into conflict with the universe”3.
Di sini absurd dapat diterjemahkan sebagai hal yang sungguh tidak rasional dalam hubungannya dengan kehidupan manusia: tiada artinya (alam/dunia absurd). Kurang bermakna atau tidak berharga (eksistensi absurd). Maka absurdisme adalah sebuah filosofi berdasarkan kepercayaan bahwa alam semesta adalah tidak rasional dan tidak berarti dan bahwa pencarian makna membawa seseorang ke dalam konflik dengan alam.
Begitulah, jika merunut kepada bahasa yang lebih tua: Bahasa Latin, maka kata 'Absurd' berasal dari kata 'Absurdus' yang berarti tuli atau bodoh, Ab-surdus.
Dalam sebuah esainya yang berkisah tentang Sisifus, Albert Camus mulai memperkenalkan Absurdisme dalam upaya pencarian makna yang 'sia-sia' oleh manusia, kesatuan dan kejelasan dalam menghadapi dunia yang tidak bisa dipahami, yang tidak memiliki tuhan dan kekekalan.
Lalu, apakah realisasi tentang absurd ini harus selalu dijawab dengan bunuh diri??
Pertanyaan bagus. Namun Camus justru menjawabnya, Tidak. ”Yang dibutuhkan sejatinya adalah pemberontakan dan perlawanan,” ucapnya dalam artikel tersebut4.
Kemudian ia pun membentangkan sejumlah pendekatan terhadap kehidupan yang absurd, dimana bab terakhirnya adalah pembandingannya absurditas kehidupan manusia dengan situasi yang dialami oleh Sisifus, tokoh dalam mitologi Yunani yang dikutuk selama-lamanya untuk terus mengulangi tugas yang sia-sia dengan mendorong batu karang ke puncak gunung, namun pada akhirnya batu itu kembali jatuh, dan ia pun harus mendorongnya lagi ke puncak gunung. Lalu jatuh lagi. Begitu seterusnya.
Dalam esainya itu, Camus menyimpulkan bahwa sejatinya perjuangan itu sendirilah yang telah cukup untuk mengisi hati manusia. Lalu, secara radikal, kemudian ia meminta kepada kita untuk tidak membayangkan bahwa Sisifus menderita dengan keadaanya.”Sisifus cukup bahagia,” ucapnya.5.
Esai filsafatnya sendiri terbit pada 1942, yang terdiri atas 120 halaman dengan judul asli Le Mythe de Sisyphe, yang kemudian diterjemahkan dalam bahasa Inggris oleh Justin O'Brien, yang diterbitkan pada 1955.
Sesuai esai Camus, Sisifus dalam Le Mythe de Sysiphe merujuk dari mitologi yunani karya Homer. Oleh Camus kemudian dideskripsikan sifat-sifatnya secara bijaksana, selalu waspada, namun pada kisah lain ia cenderung menjadi perampok atau pembuat onar.
Hubungannya tentang penculikan Egina, putri dari Aesop, yang membuat para dewa menjadi murka. Pertempuran dengan Dewa kematian. Tentang kesetiaan sang istri yang bertentangan dengan kodrat manusia untuk menguburkan jasadnya, sehingga membuat Pluto memberi ijin kepada Sisifus untuk kembali lagi ke dunia untuk menghukum sang istri, namun Sisifus memberontak pada Pluto Sang Dewa, karena kenikmatan dunia yang akhirnya membuat Sisifus tidak ingin kembali ke alam suram neraka.
Akhirnya Merkurius datang untuk mencabut nyawanya dan ia dihukum kembali di neraka untuk melakukan pekerjaan yang absurd: Mengangkat batu besar keatas gunung, kemudian menggelindingkannya kembali kebawah, untuk selamanya. Pekerjaan yang tidak berguna dan tanpa harapan. Namun pekerjaan yang tanpa harapan itu adalah kemenangannya atas pemberontakannya pada Dewa.
Itulah kebahagiaan dari Sisifus.
Sisifus adalah mitologi yang merupakan metafora dari kehidupan modern saat ini, di mana para pekerja ini tak kalah absurnya dengan kutukan yang dialami oleh Sisifus. Namun ketragisannya hanya muncul di saat mereka sadar akan nasibnya.
Begitu pula di dunia seni. Para seniman terus menerus berkarya apakah itu berupa karya seni rupa, seni pertunjukan, bahkan fotografi dan video art. Membuat suatu karya pasti memerlukan biaya yang tidak sedikit, karena seniman biasanya lebih mengutamakan idealisme. Bagaikan mengangkat sebuah batu besar ke puncak gunung, namun pada saat sang seniman mempertunjukkan hasil karya kepada apreasiator, di situlah saat-saat dia melihat batu besar itu meluncur ke bawah. Di situlah letak kepuasan, terlebih apabila karya tersebut dihargai oleh orang lain baik secara materi maupun non-materi. Namun setelah selesai, dia harus berkarya lagi, dia harus mengangkat batu itu lagi ke puncak gunung.
Seniman, terutama seniman tradisi di Indonesia, tidak bisa dipungkiri belum sepenuhnya memperoleh penghargaan secara profesional dari pekerjaan mereka. Berbeda mungkin dengan seniman-seniman yang sudah memiliki nama besar dan jam terbang tinggi.
Hal ini tak terkecuali, seniman dari seni pertunjukan, seni rupa, termasuk fotografi. Berbeda halnya dengan apa yang terjadi di luar negeri, khususnya di Eropa, Amerika, dan Australia, kesenian, sangatlah dihargai.
Sekadar informasi saja, seorang seniman pertunjukan tari dari Australia, dia bisa menghasilkan pendapatan sekitar Rp. 3 juta (dikurskan rupiah) untuk 1 jam mengajar atau memberi kursus tari, di negaranya. Sangatlah kontras dengan apa yang terjadi dengan apa yang terjadi di negara kita.
Ada yang tahu gaji pengajar tari di sanggar-sanggar tari yang ada di Indonesia? Setahu saya, untuk sebuah pertunjukan Tari Reog Dhodog, sebuah tarian khas daeah Sonopakis, Bantul saja, untuk sekali pertunjukan dengan pemain dan pengiring musik tradisional sebanyak 15-20 orang, bayaran yang didapat hanya rata-rata sekitar Rp. 600.000,00 sampai Rp. 750.000,00. Berarti setiap pemain maksimal hanya mendapatkan bayaran maksimal sebesar Rp. 37.500,00. Sebuah absurdisme yang sangat tidak berapresiatif.
Footnote
1. Camus, Mite Sisifus, Gramedia, Jakarta, 1999. hal 154.
2. Hornby, A.S, Oxford Advanced Learners Dictionary, Oxford University Press, Oxford, 1995, hlm 8.
3. www.universityofliverpool.com.
4. Albert Camus, 2004 The Plague, The Fall, Exile and the Kingdom, and Selected bisa diakses di http://id.wikipedia.org/.
5. http://id.wikipedia.org//wiki/Istimewa:Sumber_buku.
Sunday, May 29, 2011
KESENIAN PANJIDOR
Bertahan tanpa harapkan belas kasihan
Atur rombo para sesura
blajarane kulonprogo
samiya ingkang samiya
rawuh mriksa ingkang samiya rawuh
Bening dan berat suara penyanyi yang keluar dari corong mikrofon dengan nada timur tengahan terdengar meriuh seiring bunyi rebana yang ditabuh bersama jidor, dan stambul.
Selang beberapa saat, barulah seorang pria masuk ke dalam pentas diikuti oleh seorang pria lain yang berperut lebih buncit. Setelah puas bergaya bak seorang prajurit, kedua pria itu lantas bercakap-cakap dengan menggunakan bahasa Jawa.
Merekalah Umarmaya dan Umarmadi. Dalam Babad Menak, kedua tokoh ini memang seperti menjadi aktor utamanya. Sesuai dengan cerita sebenarnya, dalam setiap pementasan Panjidor, Umarmadi memang selalu ditampilkan dalam bentuk tokoh lelaki berperut buncit dan bergelagat jenaka. Sejatinya, sama halnya dengan Umarmaya, Umarmadi juga merupakan seorang penguasa, hanya saja jika Umarmaya adalah raja, Umarmadi adalah seorang Kepala Penasehat dari Raja Menak, raja yang hendak dikalahkan oleh Umarmaya. Akhirnya dirinya dikalahkan oleh Umarmaya hingga akhirnya keduanya menjadi kawan baik, dan kemudian Raja Menak pun berhasil ditaklukkan.
Begitu pula dalam pentas tarian yang nota bene merupakan satu-satunya di Indonesia ini, kedua tokoh ini memang menjadi pusat cerita.
Adalah Panjidur, nama tarian yang berasal dari Jambon, Desa Donomulyo, Kecamatan Nanggulan ini memang merupakan tarian yang ceritanya mengadopsi dari babad Menak yang menceritakan tentang peperangan antara orang mukmin dengan kaum kafir. ”Sehingga kebanyakan memang cerita tentang pasukan Paserbumi,” ungkap Ponijo, pembina kelompok Panjidur Langen Kridhatama yang merupakan kelompok kesenian pemilik Panjidur.
Meski tidak sepopuler dan setua Tarian Angguk, ternyata siapa yang menyangka jika Panjidur ini juga terbilang berusia sudah cukup tua. Betapa tidak, tarian ini sudah ada di Kulonprogo sejak 1948. Saat itu, Sastrodiwiryo, seorang tokoh seni asli Kulonprogo mendirikan Kelompok Seni Langen Kridhatama.
Saat itu pula, seniman tersebut mengembangkan gerakan-gerakan tarian yang terilhami oleh kisah peperangan yang terdapat di Babad Menak, atau yang biasa dikenal dengan Perang Babad.
Hingga kini, Kelompok Seni Langen Kridhatama telah diturunkan kepada beberapa generasi. Meski demikian, ternyata tidak ada perubahan kecuali hanya sebatas modifikasi-modifikasi gerakan yang memang disesuaikan dengan karakter para penarinya. ”Kalau syair-syairnya tetap diturunkan dari dulu-dulu. Kalaupun ada yang berubah, itu mengikuti pesanan,” candanya.
Kini, meski tak mendapatkan dukungan finansial dari pemerintah barang sepeserpun, kelompok kesenian itu tetap bertahan dengan keadaan yang seadanya.
Untuk mencukupi kebutuhan 60 orang anggotanya, tentu Ponijo harus memutar otak. Oleh karena itulah, kemudian dia coba mengomersilkan Panjidor. Tentu saja dengan dikomersilkan seperti itu, selain dirinya kemudian bisa menghidupi seluruh anggota kelompoknya, dirinya juga bisa lebih menyebarluaskan Panjidor hingga keluar Kulonprogo, bahkan sesekali, dirinya mendapat tawaran untuk bermain di luar DIY.
Biasanya, jika melayani pesanan seperti itu, kelompoknya sanggup menari semalam suntuk. Baginya, ini lebih mudah. Ibarat sebuah pentas teater, Panjidor yang ditampilkan semalam suntuk merupakan sebuah jalinan cerita yang utuh. ”Kalau kami pentas semalam suntuk, ada penari perempuan yang akan tampil,” ucapnya.
Memang, idealnya, Panjidor ini hanya dibawakan oleh laki-laki. Selain karena memang menceritakan tentang kisah prajurit, gerakan-gerakan Panjidor ini memang sejak awal sudah diciptakan untuk laki-laki. ”Jadi agak sulit jika ditarikan oleh perempuan. Kalaupun ada perempuan hanya sebagai figuran saja,” ucapnya.
Dengan uang hasil tanggapan yang berkisar antara Rp. 4-6 juta setiap kali tampil itulah, kelompok tersebut bisa bertahan. Mulai dari pembelian konsumsi untuk latihan yang digelar setiap sebulan sekali pada malam minggu wage hingga pengadaan kostum diambilkannya dari uang hasil tanggapan itu. ”Itu pun kami dapat tanggapan tidak rutin setiap bulan ada,” ucapnya.
Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudparpor) Kulonprogo Sarjana mengakui bahwa selama ini memang belum ada perhatian secara khusus terhadap masing-masing kelompok seni. ”Tapi kami berupaya untuk terus memberikan apresiasi dan proteksi terhadap kesenian-kesenian asli Kulonprogo, salah satunya adalah Panjidor ini,” ungkapnya.
Thursday, August 27, 2009
Pilih Ngisi Jedhing, Apa Ngisi Ceramah
Monggo pinarak, mas....
Tepangaken, niki foto kula kaliyan Cak Sapari pas dhateng Australia...
Yang dimaksud foto itu tentu bukan foto dirinya, melainkan foto dua ekor kucing yang biasa dijual di pasar-pasar. Celetukan ‘aneh’ semacam itu sudah biasa meluncur dari pelawak ludruk Kartolo. Ia menyambut saya seperti menyambut teman ludrukannya, slengeken.
Itulah keseharian seniman ludruk yang namanya melambung di era 1980-an itu. Guyonan dan dagelan selalu muncul meski dirinya sedang berusaha berbicara serius.
Itulah salah satu ciri yang membuat Kartolo mendapat tempat di hati penggemarnya. Ini pula yang membuat budayawan Sindhunata mengabadikan Kartolo lewat buku Ilmu Ngglethek Prabu Minohek. Menurut Sindhunata, jalan hidup Kartolo memang begitu sederhana. Sangat ngglethek (pasrah).
Kesederhanaan itu tercermin dari
Ruang tamunya juga kelihatan sederhana.
Meski nuansa humor dan guyonan kerap muncul tanpa sadar, namun diakui oleh pelawak kelahiran Watuagung, Prigen, Pasuruan tersebut dirinya juga terkadang ingin tampil serius dan khidmat, khususnya ketika berada di tempat ibadah.
”Kadang anggepane wong, wong ludruk itu jauh dari jalan agama,” kata Kartolo, kali ini dengan mimik serius.
Namun anggapan itu ditepisnya. Paling tidak, apa yang dialami jauh dari kesan orang yang tidak nyanthol agama. Bagi suami Kastini ini, keberadaannnya sampai seperti saat ini tak lepas dari kersaning sing gawe urip.
Betapa tidak, pada awal karirnya dulu, ia juga seperti pemain ludruk lainnya. Pindah dari gedong satu ke gedong lainnya. Namun pengalaman itu yang akhirnya menempa dirinya.
”Yang ada di otak saya waktu masih ngeludruk di gedong-gedong, ya cuma makan, tidur. Itu saja. Lha wong saat itu, bisa makan dua kali sehari saja sudah untung,” kata pemeroleh penghargaan ‘Seniman Berprestasi 2005’ dari Gubernur Jawa Timur Imam Utomo.
Hasil dari lara lapa itu menemukan titik baliknya sekitar tahun 1978. Tahun itu dicatat Kartolo sebagai awal dari karirnya di dunia ludruk. Pelawak kelahiran 2 Juli 1947 tersebut, mengaku pernah bermimpi ada suara dalam tidurnya yang mengatakan waktu yang dimilikinya hanya tersisa tiga tahun. Setelah mengalami mimpi itulah, kemudian Cak Tolo, panggilan akrab Kartolo, mulai mengakrabi dunia religius.
Dirinya mulai berpikir pada dasarnya manusia dilahirkan ke bumi dalam kondisi yang lemah. Saat itu, baginya manusia tidak ubahnya hanya makhluk yang memiliki kekuatan yang sangat terbatas. ”Di titik tertentu, manusia itu tidak punya dan tidak bisa berbuat apa-apa,” ujarnya.
Setidaknya prinsip itulah yang kemudian membuat Kartolo muda kemudian beralih menjadi sosok yang religius, sebuah sifat yang tidak lagi dialaminya setelah dirinya bergabung dengan ludruk.
Memang, masa kecil Kartolo yang dihabiskan di Watuagung, Prigen, Pasuruan, merupakan masa kecil yang selain dekat dengan kesenian, juga dekat dengan agama. Selain berkesenian, yakni karawitan, Kartolo kecil juga dididik agama dengan cukup disiplin, mengingat lingkungan dimana Kartolo tinggal merupakan lingkungan yang bisa dikatakan sebagai lingkungan santri.
Ternyata benar, setelah tiga tahun Kartolo ternyata mengalami sesuatu hal yang benar-benar kemudian mengubah jalan dan nasib hidupnya. ”Kurang lebih di tahun 1980, saya kemudian ditawari rekaman oleh Nirwana Record. Sejak itulah nasib saya berubah drastis,” ungkapnya.
Sejak bergabung dengan Nirwana Record, Kartolo Cs sudah menghasilkan 90 kaset rekaman lakon ludruk. Ini dihasilkannya dalam kurun waktu 1980-1995. Jika dirata-rata, setiap dua bulan sekali Kartolo Cs menghasilkan satu kaset.
Beberapa kaset yang pertama kali ditelurkannya adalah Peking Wasiat dan Welut Ndase Ireng. Sedangkan kaset yang terakhir diproduksi adalah Rujak Kikil. Kaset ini keluar pada 1995, persis saat Basman, rekan pemain ludruk, meninggal dunia.
Sejak lawakannya direkam di pita kaset, hidupnya berubah menjadi lebih baik seiring dengan larisnya kaset rekamannya serta semakin banyaknya job dan show yang dilakoni bersama teman-temannya seperti almarhum Sokran, almarhum Munawar, almarhum Blontang, Sapari, dan Ning Tini, bergabung setelah dinikahi 1974.
Diakui oleh Kartolo, awalnya mimpi itu tidak digubrisnya, namun setelah dirinya mengalami kejadian-kejadian yang dialaminya dalam mimpi-mimpinya tersebut, barulah dia percaya bahwa mimpi pada hakikatnya adalah perlambang akan sebuah peristiwa yang akan terjadi. ”Wis ta lah, ngalah-ngalahi Mama Lorent pokok’e,” ungkapnya sambil terkekeh-kekeh.
Dalam setiap perubahan hidup Kartolo, selalu didahului dengan mimpi. Diceritakannya, dirinya pernah bermimpi dilempar oleh tiga buah bungkusan yang terbungkus kain sarung. ”Ternyata tidak lama setelah itu, karir saya semakin melejit. Seperti nggathuk-nggathukne yo? Tapi itulah kenyataanya,” kenangnya.
Dikatakannya lagi, bahwa suatu hari dirinya pernah bermimpi mengenai hujan deras yang melanda tempat dirinya akan tampil melawak. Ternyata, tidak lama, ketika dirinya sampai di kawasan Dampit,
Tidak hanya berkaitan dengan karirnya, tetapi mimpinya pernah berbuah duka. Diceritakan Kartolo, tentang firasat mimpi sebelum adiknya meninggal dunia. Dia bermimpi dimintai sumbangan.”Ternyata, setelah saya bertemu dan dimintai sumbangan salah satu yayasan, lah kok ga lama, saya dapat telepon dari Pasuruan. Adik saya meninggal karena kecelakaan,” kenangnya yang kali ini dengan suara pelan.
Kini Kartolo sudah menyandang haji. Gelar haji itu sudah disandangnya sejak tahun 2001 lalu. Ia mengaku sangat terlambat berhaji, karena baru menuaikan haji setelah usianya tua. Namun Kartolo mengaku tidak menyesal, karena toh bisa memberangkatkan haji kedua orang tuanya.
”Zaman itu, meski kami banyak job, tapi saya dahulukan untuk membahagiakan orang tua saya dulu,” aku bapak dari Gristianingsih dan Dewi Trianti.
Dengan menyandang status haji dan juga ‘orang ngetop’, ketika berada di kampungnya, diakuinya kerap warga lainnya menawarinya untuk menjadi pemimpin mereka, khususnya dalam hal ibadah.
Diceritakannya, dia kerap ditawari untuk menjadi imam dan khatib di masjid kompleksnya yang berada di kawasan Kupang Jaya. Akan tetapi, dengan guyonan dan dagelan pula, Kartolo menanggapi semua tawaran dari warga tersebut. ”Lek aku dadi imam, gelem ta peno terawih mulai jam pitu buyar jam papat isuk? Itu yang saya katakan pada mereka. Akhirnya mereka
Selain itu, dia juga kerap diminta untuk mengisi ceramah. Dia juga menanggapi tawaran tersebut dengan guyonan. ”Lah mendhing saya ngisi jedhing dulu, baru ngisi ceramah,” ujarnya.
Memang, meski dia terbilang cukup tekun menjalankan ibadah agama, namun Kartolo mengaku masih belum pantas untuk menyandang status yang disebutnya sebagai pelawak dakwah. ”Kalau cuma nyinggung sedikit, gak apa-apa. Tapi kalau sampai serius ngomong soal agama, saya belum berani. Takut salah,” akunya.
Dia mengatakan, dua hal yang dihindari saat melawak adalah politik dan agama.”Itu masalah sensitif. Saya bukan politikus, juga bukan dai. Saya cuma pelawak yang pura-pura jadi politikus dan pura-pura jadi pendakwah,” kata Karlontong...eh..Kartolo.
Tuesday, July 21, 2009
Optimisme dari Ujung Pensil
Menurutnya, melukis drawing tidak lebih rumit jika dibandingkan dengan melukis memakai oil atau acrylic. Baginya dalam melukis drawing, seorang seniman juga harus bergelut dengan unsur-unsur drawing, seperti shadow, gradasi, balance, dan volume. Ternyata, ornamen-ornamen itulah yang membuat sebuah lukisan drawing tampak hidup.
Nyatanya, memang itulah yang menjadi kelebihan pada karya-karya perupa lulusan Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya tersebut. Dengan cermatnya perhitungan shadow, gradasi, balance, dan volume membuat karya-karyanya tampak hidup dan memiliki karakter yang kuat.
Dengan total 20 karya lukisan drawing yang memang hampir seluruhnya berukuran besar, Mufi Mubaroh menggelar pameran lukisan di Orasis Gallery. Pameran yang diselenggarakan mulai 15-24 Juli 2009 tersebut menampilkan karya-karya lukisan drawing Mufi Mubaroh yang dibuat antara periode 2007-2009.
Meski diakuinya, pada awal karirnya sebagai perupa, dia memang menggunakan oil sebagai media untuk melukis. Akan tetapi, setelah tahun 2003, khususnya saat menjelang tugas akhir kuliahnya, dia mencoba mencari media alternatif, yang murah tapi menghasilkan karya yang tidak kalah dengan oil atau acrylic, dan akhirnya pilihannya jatuh pada drawing. ”Maklum, mas, waktu itu harga oil atau acrylic, benar-benar sedang melangit,” tukasnya.
Setelah melihat hasil karya lukisan drawingnya yang pertama di tahun 2003 tersebut, kemudian muncul kepercayaan dirinya untuk melanjutkan melukis drawing. ”Jadilah akhirnya sampai sekarang,” katanya.
Perkembangan drawing sendiri sebenarnya tidak sepesat lukisan painting. Buktinya, di awal 2007, ketika painting kontemporer tengah mendominasi segala wacana dalam seni rupa, kehadiran Mufi dengan lukisan drawingnya di sebuah pameran yang bertempat di Jogjakarta, sempat menjadi pusat perhatian dari beberapa kalangan, baik seniman, maupun pengamat. Oleh karena itulah pada akhirnya dalam ajang tersebut, dirinya malah mendapatkan penghargaan sebagai lukisan terbaik dalam ajang Muara Seni Jogjakarta, 2004..
Itulah, yang menjadi dasar baginya untuk kemudian beranggapan bahwa drawing ini bisa dikatakannya merupakan semacam gerakan pemberontakan terhadap dominasi painting. Baginya, untuk mencapai detail dari sebuah objek, dengan menggunakan pensil dan charcoal (sejenis arang) pun juga bisa.
Sedangkan, mengenai tema karya, perupa yang juga pernah menjadi finalis dari Jakarta Art Award, 2008 tetrsebut lebih banyak berbicara tentang kekecewaan, khususnya terhadap segala bentuk realitas hidup yang dialaminya. Kekecewaan yang sifatnya lebih personal memang terlihat jelas dalam karya-karyanya.
Meski demikian, kekecewaan itu oleh Mufi diolah sedemikian rupa hingga akhirnya menjadi sebuah rasa optimisme.”Jadi, kekecewaan yang saya alami adalah kekecewaan dari seorang korban yang selalu ingin bangkit kembali,” ujarnya.
Oleh karena itulah, meski sarat akan nuansa kekecewaan, namun, diakui oleh Mufi, karya-karyanya lebih banyak menawarkan solusi dan harapan. Dia mencontohkan pada beberapa karyanya, Mufi banyak memakai simbol optimisme, yakni gambar ‘plus’. ”Gambar tersebut menurut saya lebih bermakna pada rasa optimisme dan harapan di tengah kekecewaan,” ujarnya.
Oleh karena itu, Mufi juga menganggap karya-karyanya adalah seperti kamus, buku, yang memuat berbagai kenangan dan cara berinstrospeksi, merenung, dan kritik diri terhadap berbagai kehidupan dan tentu saja, sejumlah kekecewaan.
Kini, perupa yang tengah berupaya untuk menciptakan sebuah kreatifitas baru, yakni menggabungkan antara teknik drawing yang menggunakan pensil, dengan teknik painting yang menggunakan oil.
Surabaya Post, Minggu, 19 Juli 2009
