Label

Seni (14) Features (8) Informasi (8) Budaya (6) Puisi (5) Tokoh (4) Lensa (3) Sastra (3) Buku (2) Umum (2) Cerpen (1) Komunitas (1) Resensi (1)
Showing posts with label Features. Show all posts
Showing posts with label Features. Show all posts

Monday, September 7, 2015

Melangkah Sepi Antara Seni, Budaya Tani, dan Teknologi


Tak sekadar gerobak, tak pula sekadar bisa mengangkut barang. Gerobak sapi seolah diciptakan tak hanya sebagai alat transportasi belaka, melainkan memiliki nilai estetika tersendiri. Berbeda dengan tahun lalu, peserta Festival Gerobak Sapi 2015 terlihat lebih ‘serius’ mendandani gerobak sapinya.

Kluk. Klunthung. Kluk. Klunthung.

Suara-suara itu terdengar bergantian. Raung motor dan mobil sesekali menyamarkannya.

Lebih dari 227 gerobak sapi beriringan memadati jalanan di lingkar luar Stadion Sultan Agung, Minggu (6/9). Beriringan, mereka berebut jalan dengan kendaraan bermotor yang juga berjalan pelan lantaran ingin menyaksikan karnaval gerobak sapi beraneka bentuk dan ragam itu.

Tak sama dengan festival tahun lalu, gerobak-gerobak itu ini tampil jauh lebih cantik. Detail pernak-pernik aksesoris mulai diperhatikan oleh para bajingan (pengendara gerobak sapi).

Bukan tanpa alasan, bukan pula sekadar pemanis, aksesori itu sejatinya merupakan simbol bangkitnya kembali gerobak sapi di tengah derasnya era teknologi dan modernisasi.

Penggunaan klunthungan misalnya. Aksesori yang biasa dikenakan di leher sapi ini, kini harganya sudah mencapai jutaan rupiah.

Lebih dari itu, bagi para bajingan, penggunaan klunthungan tak sekadar hanya sebagai penghias saja. Bagi mereka, suara ‘klunthung’ yang ditimbulkan dari benda berbentuk genta itu ternyata memiliki nada yang berbeda-beda. “Berdasarkan ukuran klunthungannya,” kata Sariman Muntil, pemilik sekaligus pembuat gerobak sapi asal Prambanan yang mengikuti acara tersebut.

Tak hanya sebagai alat transportasi, dari bunyi yang dihasilkan klunthungan itu, gerobak sapi ternyata memiliki nilai seni yang cukup tinggi. Bunyi klunthungan yang berpadu dengan suara ‘kluk’ dari roda kayu yang berputar pelan, membentuk suatu bebunyian yang terdengar ritmis.

Tentu saja, ini tak terjadi begitu saja. Dikatakan Mbah Muntil, sapaan akrab Sariman Muntil, gerobak sapi yang orisinil, idealnya memang harus memunculkan perpaduan ritmis kedua bunyi itu. Baginya, justru itulah yang menjadi ciri khas dari gerobak sapi.

“Selain dari lajunya yang sangat lambat, tentu saja.”

Itulah sebabnya, setiap membuat gerobak sapi, terutama untuk kebutuhan festival seperti ini, ia selalu menciptakan roda dengan struktur manual. Tanpa laher, katanya. Jadi roda yang dipasang secara manual itulah yang akan memunculkan bunyi ‘kluk’ saat berputar.

Meski hanya festival, para bajingan tak hanya menampilkan gerobak sapi mereka dalam keadaan serba cantik begitu saja. Tak lupa mereka juga menyertakan beberapa barang bawaan di dalamnya. Mulai dari potongan ilalang, karung berisi gabah, hingga tumpukan jerami mereka tumpuk begitu saja di gerobak itu.

Khusus untuk karnaval, peserta memang diharuskan untuk menampilkan gerobak sapi mereka sealami mungkin. Kendati harus dipercantik, peserta diharapkannya juga menunjukkan bahwa gerobak sapi mereka masih berfungsi.

Anjuran itu pun lantas diamini oleh para peserta. Beberapa peserta tampak dengan nyaman menduduki tumpukan jerami yang ada di dalam gerobak mereka masing-masing. Di kemudi, tubuh bajingan tampak bergoyang-goyang, sembari tangannya sesekali melecutkan pelan tali dera ke kaki sapi agar terus berjalan.



Tapi beda lagi dengan kategori custom. Sebaliknya, di kategori custom ini, peserta justru dituntut untuk sekreatif mungkin menghias gerobaknya. Alhasil, 10 gerobak cantik dengan beragam tema aksesoris tak kalah jadi pusat perhatian.

Gerobak dengan tema kursi pengantin misalnya. Gerobak milik Tohbudi, warga Bakulan, Jetisitu mengaku gerobak miliknya bukan sekadar gerobak festival belaka. Setiap masa panen, gerobaknya pasti ramai dipakai untuk mengangkut hasil panen warga sekitar rumahnya. “Memang tak secepat motor sih. Tapi lumayan, jasa angkut dengan harga murah,” celetuknya.

Tak hanya itu, kedua ekor sapi sekaligus gerobak miliknya itu juga terbilang tangguh. Pria yang sehari-hari bekerja sebagai staf tata usaha di Kejaksaan Negeri (Kejari) Bantul itu beberapa kali melakukan touring gerobak sapi dengan bajingan lain. “Jangan dibayangkan touring kami seperti touring motor. Saya pernah touring dari Bakulan ke Prambanan, butuh waktu 6-8 jam,” celetuknya.

Bukan saja karnaval dan lomba gerobak sapi custom saja, dalam event tahunan itu, juga digelar lomba balap sapi. Berbeda dengan event tahun lalu, lomba balap sapi tahun ini digelar dalam bentuk track lurus tanpa halang-rintang. Dua ekor sapi yang tertambat di satu pancang berlari menembus debu lintasan. Berpacu dengan dua ekor sapi yang lain.

Untuk hadiah, panitia telah menyiapkan total puluhan juta rupiah serta dua troph bergilir. Masing-masing thropy itu di antaranya adalah Piala Bergilir Gubernur DIY untuk juara pertama kategori karnaval, dan trophy bergilir GKR Hemas untuk kategori custom.**

Wednesday, March 7, 2012

Wiwitan, Sebuah Pengharapan Jelang Panenan




Dalam dua barisan, sekitar 30 orang rombongan berjalan beriringan menembus panas pagi di sekitar Bulak Graulan dan Bulak Dubangsan Desa Giripeni Kecamatan Wates.

Rombongan yang masing-masing membopong uba rampe yang terdiri dari bermacam-macam hasil bumi mulai dari sayuran, buah-buahan, padi, hingga sebuah ingkung (ayam utuh) yang ditempatkan dalam sebuah nampan bambu.

Tentu saja, barisan itu dipimpin oleh dua orang sesepuh desa yang membawa sebuah sesaji berupa seikat padi dan tumpeng hasil bumi.

Dalam iringan gamelan, rombongan tersebut berjalan dari rumah salah satu warga menuju kedua bulak yang letaknya saling berhadapan tersebut.

Di sekitar bulak sendiri, dengan beratapkan tenda, sudah menunggu beberapa warga lainnya dan juga beberapa perwakilan dari Dinas Pertanian dan Kehutanan (Dipertahut) Kulonprogo, Kantor Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Pertanian, Perikanan, Kehutanan (KP4K) serta aparatur desa setempat.

Setelah melewati warga yang berkumpul di bawah tenda tersebut, rombongan kemudian langsung menuju ke bulak yang kemudian diikuti dengan ritual penancapan sesaji berupa ikatan padi oleh sesepuh desa.

Bagi Sunaryono, sesepuh desa yang bertugas menancapkan ikatan padi itu ke lahan persawahan, mengatakan bahwa tradisi yang mereka sebut sebagai Wiwitan tersebut merupakan sebuah upaya untuk menjaga kelestarian tradisi adat Jawa.

Tradisi mereka memang mengajarkan bahwa wiwitan hanya dilakukan pada akhir musim tanam I. tradisi itu bagi mereka adalah salah satu bentuk doa dan pengharapan mereka atas Yang Maha Kuasa agar panen yang hendak mereka lakukan di Musim Tanam I bisa mencapai hasil yang maksimal. ”Kami percaya, kalau musim tanam I hasilnya bagus, biasanya di musin tanam II dan III hasilnya pun akan ikut bagus,” ujarnya yang saat ritual tersebut mengenakan busana adat jawa lengkap berupa jarik, beskap, dan blangkon.

Sedangkan untuk hasil panenan musim tanam I tahun lalu, Dikin, 62, yang merupakan Ketua Kelompok Martani menjelaskan bahwa hasil panen yang dicapai kelompoknya mencapai 9,63 ton per hektar. ”Sedangkan luas lahan pesawahan kami [Bulak Graulan] adalah 25 hektar dari total semuanya 43,04 hektar,” ucapnya.

Sedangkan pada masa tanam II, diakuinya, petani di kelompoknya mengalami penurunan produksi, lantaran disebabkan adanya musim kemarau yang menyebabkan kondisi tanah menjadi tidak subur.Akibatnya tanaman mereka yang waktu itu masih berumur 30 hari terserang penyakit hama ulat sundep seluas hampir lebih dari 2000 meter persegi. ”Akibatnya, saat itu produksi kami hanya mencapai 7,8 hektar per ton,” keluhnya.

Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian dan Kehutanan (Dispertahut) Kulonprogo, M.Aris Nugroho justru memberikan apresiasi guna mendukung dengan kegiatan wiwitan yang dilakukan para kelompok tani. Hal itu merupakan wujud rasa syukur atas hasil pertanian yang diperoleh pasca bencana erupsi merapi yang melanda para petani. ”Semoga hasil pertanian petani pada musim tanam (MT) I ini mengalami peningkatan dengan hasil yang maksimal,” ujarnya.

Dalam wiwitan itu pula juga dilakukan sosialiasi tentang Temu Teknologi oleh Dinas Pertanian dan Kehutanan (Dispertahut) Kabupaten Kulonprogo, Kantor Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Pertanian Perikanan Kehutanan (KP4K) Kulon Progo dan perangkat desa. Sosisalisasi tersebut bertujuan untuk memberikan pembinaan dan evaluasi terhadap kegiatan pertanian yang telah dilakukan masyarakat. ”Untuk tahun 2012 ini, target hasil produktifitas padi di Kulonprogo mencapai 127.901 ton gabah kering giling (GKG). Kami berharap mampu memberikan kontribusi kepada Pemerintah Provinsi DIJ,” ujarnya.

Monday, January 23, 2012

Kampung Surabayan Dulu dan Kini

SORE itu (23/1) masih begitu terik. Sinar matahari masih perkasa menciptakan bayang lamur ke arah timur. Begitu pula di kampung ini. Surabayan. Kampung di kawasan Kedung Sari itu seperti pada sore-sore sebelumnya, riuh oleh lalu lalang warga atau sekadar orang yang kebetulan sedang lewat.

Meski sudah jarang berdiri bangunan-bangunan dengan arsitektur kuno dan sudah didominasi bangunan kampung modern, rumah-rumah di sana berpetak-petak dengan ukuran yang tak begitu luas. Kondisi itu seakan-akan menerjemahkan bahwa kampung itu memang tidak mementingkan keadaan bangunan per bangunan, tetapi lebih mengutamakan jumlah penghuni.


Kondisinya yang cukup kumuh itu adalah potret nyata dari sesuatu yang wajar, khas, dan membudaya sebagai kampung. Kumuh merupakan kata kunci jika mencoba mencari pengertian kampung di Surabaya. Tapi, siapa yang menyangka jika kampung itu adalah salah satu kampung tertua di Surabaya. Nama yang sama, bisa jadi itu alasan kenapa kampung ini kemudian dikatakan sebagai kampung tertua di Surabaya.


Budayawan Surabaya yang juga penulis buku Masuk Kampung Keluar Kampung (2008), Akhudiat berpendapat lain. Dikatakannya, Surabayan merupakan kampung pertama di Surabaya setelah dilihatnya sebuah perjanjian yang dalam ilmu sejarah biasa disebut Ferry Charter atau Perjanjian Penyeberangan.


Perjanjian ini pada dasarnya merupakan sebuah kisah yang termaktub dalam Kitab Negarakretagama karya Suttasoma. Dalam kitab itu dijelaskan bahwa Raja Majapahit menyinggahi setidaknya 40 desa di sekitar sungai Brantas dan Bengawan Solo. Dari 40 desa itu, beberapa di antaranya adalah Desa Surabayan, Bungkul, dan Jambangan. Saat itu Surabaya berada dalam kondisi yang  sangat jauh berbeda dengan sekarang.


Jangan dibandingkan dengan sekarang, saat itu Surabaya masih berupa kumpulan pulau-pulau kecil yang masing-masing memiliki sebuah kota utama yang sekaligus merupakan pelabuhan dan pintu masuk ke pulau tersebut.


Sedangkan Surabayan sendiri pada mulanya adalah sebuah kota penting dalam pemerintahan Majapahit. Betapa tidak, dalam Negarakretagama disebutkan bahwa Surabayan disebut sebagai salah satu dari kota pelabuhan yang cukup sibuk. Bahkan, secara keseluruhan, Wonokromo merupakan kawasan pelabuhan utama bagi Surabaya.


Ini dibenarkan oleh Autar Abdillah. Menurut seniman yang tesisnya mengambil tema Budaya Arek Surabaya (2007) ini, di abad ke-4, yang namanya Surabaya hanya merupakan beberapa pulau kecil di sisi sebelah timur. Pulau-pulau itu di antaranya adalah Bagong, Bungkul, Gunungsari, dan beberapa pulau kecil yang kini menjadi kampung-kampung di kawasan sekitar sungai Brantas, seperti Rungkut, Prapen, dan Ngasem.


Bahkan saat itu, menurut Autar, Pulau Wonosrama, yang kemudian kini menjadi kampung Pulo Wonokromo, diakui Autar, merupakan kawasan pelabuhan yang sangat sibuk. "Kawasan ini memang seolah menjadi pintu masuk ke pulau-pulau yang lebih dalam,” ujar staf pengajar drama di Sendratasik Universitas Surabaya (Unesa) ini.


”Hingga pada akhirnya muncul kampung Ampel Dento,” sela Akhudiat kemudian. Abad ke-14 memang ditandai dengan munculnya sebuah kampung Arab di kawasan Ampel. Keadaan saat itu, Surabaya sudah tidak lagi terpencar-pencar menjadi  pulau-pulau kecil, melainkan sudah menyatu dengan dilakukannya proses reklamasi oleh beberapa warga.


Selepas itu, barulah kawasan utara menjadi sangat sibuk. Betapa tidak, kawasan utara yang merupakan kawasan pesisir menjadi pusat aktivitas manusia dari berbagai tempat. Akibatnya, kawasan ini menjadi begitu plural. Begitu beranekanya hingga pada masa koloni, sempat terjadi perbedaan hukum publik menjadi 3, yakni hukum Eropa, Timur Asing, Pribumi.


Hukum Eropa merupakan hukum yang berlaku bagi warga berkebangsaan Belanda, Inggris, dan juga beberapa warga Eropa. Hukum Timur Asing diperuntukkan pada masyarakat berkebangsaan Arab, Cina, dan beberapa masyarakat yang berasal dari Asia. Terakhir, hukum yang diperuntukkan bagi pribumi, bagi masyarakat asli.


Saat itu, secara administratif, pemerintah kolonial memang setidaknya membagi Surabaya menjadi dua wilayah besar, yakni Kota Atas dan Kota Bawah.


Kota Atas yang berada jauh dari pesisir bisa dibilang merupakan kawasa elite tempat pusat peradaban bagi kaum-kaum borjuis. Kawasan yang saat itu meliputi daerah Darmo, Simpang, dan sekitarnya itu memang merupakan kawasan pemukiman yang banyak dihuni warga Eropa.


Sedangkan Kota Bawah merupakan kawasan yang setiap harinya selalu sibuk. Kawasan yang dipecah oleh Sungai Kalimas menjadi dua wilayah besar ini merupakan kawasan pusat perdagangan yang bisa dibilang merupakan urat nadi Surabaya.


Setidaknya memasuki abad ke-18, kurang lebih tahun 1900, saat Jembatan Petekan dibangun, pengaturan kota bawah ini sudah demikian rapi. Di antaranya adalah dikelompokkannya kawasan yang dihuni masyarakat yang sejenis atau serumpun.


Misalnya di sisi barat Sungai Kalimas, khususnya di kawasan Kalongan, Gatotan, Krembangan, merupakan hunian masyarakat Eropa, atau setidaknya masyarakat-masyarakat Indo-Belanda.


Sedangkan di sisi timur sungai Kalimas, yakni di kawasan yang sekarang dikenal dengan Jl. Karet dan sekitarnya merupakan pusat hunian masyarakat-masyarakat beretnis Tionghoa. Agak ke barat, tepatnya di kawasan Ampel, yang saat itu sudah semakin berkembang dari sekadar kampung Ampel Gentho, semakin banyak warga beretnis Arab berkumpul dan beranak pinak di kawasan itu. "Jadi memang, waktu itu cukup dekat kawasan China dan Arab," sela Akhudiat lagi.


Barulah di sisi timur Sungai Kalimas, tepatnya di sisi sebelah utara kampung pecinan, merupakan tempat kumuh yang dihuni masyarakat pribumi.


Memang, pembagian-pembagian ini, dikatakan oleh Akhudiat, cukup tegas. Hukum yang dijalankan pemerintah kolonial waktu itu memang cukup tegas. ”Pernah sekali waktu ada warga China yang kemalaman di kawasan Krembangan. Dia menginap di sana. Ga pake lama, langsung ditangkap dia,” terang Akhudiat dengan gaya bicaranya yang khas.


Baru inilah mulai muncul pengertian kampung. Waktu itu ciri khas kampung yang paling mudah dikenali adalah kumuh dan letaknya yang memang menjorok ke dalam. "Jauh dari straat," Akhudiat mengistilahkan.


Straat merupakan sebutan bagi jalan besar, jalan raya, atau jalan utama yang memang waktu itu pembangunannya lebih diutamakan pada kawasan-kawasan yang kerap dilalui masyarakat Eropa, yang menjalankan roda kehidupan Surabaya.


Ternyata apa yang dijelaskan Akhudiat tersebut memang benar-benar ada hingga sekarang. Buktinya kampung-kampung asli yang memang pantas disebut sebagai kampung, letaknya pasti berada tidak dekat dengan jalan-jalan besar.


Selain itu, egalitarian masyarakat kampung pun dari masa pra koloni pun sudah demikian tampak. Misalnya dengan kebiasaan main ceki (suatu permainan cara China seperti pei, bongkin) dan misuh (mengumpat). Ini wajar mengingat hampir di setiap kampung terdapat gardu atau yang sekarang kerap disebut dengan pos satpam, merupakan pusat sosialisasi serta transformasi berbagai informasi antar masyarakat. "Sehingga sebagai pengisi waktu pun mereka kemudian main ceki di sana," ujar Akhudiat.


Belum lagi, kebiasaan masyarakat kampung yang tidak bisa dihindari adalah mendem (minum minuman keras). Puncaknya, kegiatan ini adalah ketika ada salah satu warga yang punya hajat, baik itu perkawinan, maupun khitanan, minuman keras menjadi suguhan wajib. Uniknya tidak hanya menjadi suguhan bagi para undangan, melainkan juga dijual di sekitar rumah yang punya hajat, lengkap dengan tambulnya (makanan pelengkap saat minum minuman keras).


Tidak hanya itu, masih ada ciri khas lain yang memang sangat menonjol dari kampung-kampung asli di di Surabaya adalah adanya pagupon (kandang burung dara). Menurut Akhudiat, pagupon ini merupakan bukti dari kegemaran warga kampung Surabaya untuk ando’an doro, istilah untuk aktivitas yang biasa disebut dengan adu merpati.


Kini meski modernisasi telah merambah dan mengubah Surabaya menjadi kota metropolis, namun kenyataannya, jika memasuki kampung-kampung tersebut, misalnya, kampung Peneleh, Bubutan, Wonokromo, Jambangan, hingga timur seperti kampung Sidotopo, Bulak, hingga terus ke timur ke kawasan kampung nelayan Nambangan, nuansa kampung setidaknya sedikit masih terasa.


Letaknya yang jauh dari jalan besar dan beberapa ciri khas lain seperti selalu ditemukannya gardu dan pagupon pun menjadi bukti bahwa akar tradisi dan kebiasaan warga kampung Surabaya yang egaliter dan apa adanya memang masih dipegang dan dijalankan, baik secara sadar maupun tidak sadar.


Kini, kampung-kampung yang ada di Surabaya, sudah terdistorsi oleh masuknya modernisasi yang semakin merajalela. Lalu, apakah lokalitas khas kampung sebagai identitas kota ini akan terus luntur. Akhirnya satu per satu kampung di Surabaya akan lenyap dan berubah menjadi kawasan yang di tahun 1930-an dikenal sebagai kota atas. Sebuah kawasan elite yang sama sekali tidak bernafaskan egalitarian sebagai identitas asli masyarakat Surabaya.

Thursday, December 22, 2011

Labuhan Puro Pakualaman

Ngalap berkah di laut Glagah

Pagi itu (6/12) warga sekitar lokasi objek wisata Pantai Glagah kecamatan Temon terkejut dengan alunan suara seruling serta suara snar drum yang ditabuh seiring dengan derap langkah para prajurit pengawal Lombok Abang dan Bregodo Plengkir yang masing-masing mengapit barisan 3 gunungan yang masing-masing disusun dari Wulu Wetu atau palawija dan hasil bumi lainnya, serta padi sebagai simbol makanan pokok masyarakat Jawa dan kain yang biasa dipakai oleh Paku Alam IX.

Sekitar pukul 08.30, setelah menggelar upacara serah terima tumpeng kepada putra Paku Alam IX, Gusti Bendoro Pangeran Haryo (GBPH) Danardono, dengan didahului oleh pembacaan doa, barisan pengusung tumpeng yang berasal dari abdi dalem pakualaman dan abdi dalem Girigondo mulai menuju tepi laut di kawasan Joglo Labuhan Pantai Glagah.

Setidaknya lebih dari 100 orang berbaris rapi dengan menempatkan 3 gunungan serta 1 buah tumpeng dan uba rampe lainnya tepat di tengah barisan. Rombongan itu kemudian berjalan sekitar 2 kilometer dari halaman gedung bekas kantor Pakualaman di kawasan Sanggrahan, Desa Glagah menuju ke Joglo Labuhan hingga akhirnya 3 gunungan dan uba rampe itu dilarung di laut selatan.

Barulah, setelah 2 orang abdi dalem pakualaman turun nyaris beberapa puluh meter dari bibir pantai menembus ombak laut selatan yang sepertinya mendadak meninggi, guna melarung masing-masing bagian dari gunungan yang kemudian dibungkus dengan menggunakan kain putih, masyarakat berebut 3 gunungan dan uba rampe itu. ”Itu namanya ngalap berkah,” terang Mas Rio Wirodarmo, 65, seorang tindih prajurit Pakualaman kemarin (6/12) seusai upacara labuhan.

Upacara labuhan itu sendiri, terangnya, adalah upacara rutin yang digelar tiap tahun, tepatnya tanggal 10 sura. Upacara ini adalah rangkaian dari peringatan bulan sura di keraton Pakualaman. ”Dari peringatan tanggal 1 Sura, dilanjutkan tanggal 10 Sura ini dengan labuhan di Glagah ini,” ujarnya.

Dengan menggelar upacara labuhan itu, pihak Pakualaman berharap selain bisa membuang segala kesialan, lantaran disertakannya sukerto, mulai gari guntingan kuku, rambut hingga beberapa hal lain milik keluarga Pura Pakualaman yang diangggap kotor, juga sebagai wujud ungkapan rasa syukur Pakualam IX beserta keluarga terhadap segala rejeki dan kenikmatan yang diberikan oleh Tuhan kepada mereka dan seluruh warga Yogyakarta. ”Selain itu, juga sebagai ungkapan rasa ikhlas Paku Alam IX beserta keluarga untuk memberikan segala yang menjadi miliknya kepada Tuhan,” ujarnya.

Begitu pula dengan putra Paku Alam IX (GBPH) Danardono, saat ditemui seusai upacara tersebut, mengatakan bahwa pihaknya secara rutin tiap tahunnya menggelar upacara labuhan itu.

Upacara labuhan itu, dikatakannya sebagai wujud bakti keluarganya terhadap para leluhur. Selain itu, diungkapkannya pula, sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas semua yang telah dilimpahkan. ”Acara ini sebelumnya sempat berhenti selama beberapa tahun namun sekarang mulai dilaksanakan kembali untuk melestarikan tradisi,” ujarnya.

Semenatara 2 orang abdi dalem yang melarung di tengah laut berjuang melawan ganasnya ombak laut selatan, ratusan warga mendadak saling berebut 3 gunungan dan uba rampe yang semula masih digotong oleh beberapa abdi dalem.

Salah satunya adalah Saridah, 65, warga sekitar Makam Girigondo, Desa Kaligintung, Kecamatan Temon. Dengan suara tuanya, Mbah Saridah, sapaan akrabnya, mengatakan mengatakan bahwa upacara Puro Pakualaman tersebut adalah upacara yang selalu dinantinya setiap tahun.

Dengan menunjukkan segenggam hasil bumi yang didapatnya dari berebut dengan ratusan warga lainnya, nenek yang datang ke pantai Glagah bersama rombongan abdi dalem dari Girigondo tersebut berharap bahwa hidupnya akan lebih baik di tahun-tahun mendatang. ”Dari hasil ngalap berkah ini, diharapkan akan membuat hidup saya sekeluarga menjadi lebih baik. Biar tidak rugi, sandal saya ini sampai hilang sebelah,” candanya sambil menunjukkan sandal japit hitamnya yang tinggal sebelah.

Begitu pula dengan pertanian yang menjadi sumber sehari-harinya dalam mendapatkan uang. Dengan mendapatkan beberapa hasil bumi, dirinya percaya, jika itu ditanam, akan bisa meningkatkan hasil produktifitas pertaniannya.”Semoga ini bisa menjadi berkah buat saya,” harapnya.






Tuesday, December 20, 2011

Merti dusun Imorenggo Desa Karangsewu Kecamatan Galur

Perayaan pertama untuk keselamatan bersama


Birunya langit pagi itu (11/12), sekitar pukul 08.00 membuat sinar matahari menjadi sama sekali tak berpenghalang. Namun itu tak membuat 40 orang yang berjalan sekitar 500 meter mengarak sebuah gunungan setinggi 2 meter dan beberapa uba rampe yang diletakkan di atas peti dan dipanggul oleh beberapa pemuda, merasa lelah.

Arak-arakan itu berawal dari sekitar situs Pandan Segegek tepatnya di rumah Sudarwanto, Ketua Wilayah Dusun Imorenggo Desa Karangsewu, Kecamatan Galur ke arah aula dusun Imorenggo, tempat diselenggarakannya acara yang bertajuk Hari Bhakti Transmigrasi dan Merti Dusun yang merupakan salah satu wilayah lokasi transmigrasi lokal tersebut.

Setelah mengikuti serangkaian acara yang dihadiri Kepala Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Riyadi Sunarto, Kabid Kebudayaan Disbudparpora Joko Mursito, dan Camat Galur Jazil Ambar Was’an tersebut, maka sekitar pukul 12.00, gunungan dan uba rampe itu diarak kembali dari aula dusun menuju ke tepi laut untuk dilarung.

Dengan membawa sebuah wadah berbungkus kain putih, 6 macam jenang-jenangan, di antaranya termasuk jenang burabari, jenang gecok, dan jenang pancawarna, Sudarwanto, yang didapuk sebagai pemimpin arak-arakan tersebut kemudian berjalan dari pantai menuju bibir pantai.

Ombak pantai selatan yang menyambut kakinya seperti hendak menjemput besek berisi jenang itu. Tanpa menunggu lama, besek itu pun segera dilemparkannya ke gulungan ombak berbuih putih yang ada di depannya itu.

Barulah setelah itu, gunungan dan uba rampe kembali diarak ke aula untuk kemudian diperebutkan oleh warga yang sedari pagi sudah datang berharap bisa mendapatkan satu atau dua hasil bumi yang dipajang pada gunungan itu. ”Kalau di labuhan pada umumnya, warga bisa langsung berebut hasil bumi, tapi di sini lain. Kami hanya mengijinkan warga berebut gunungan dan uba rampe di aula. Bukan di atas pasir pantai ini. Sayang, kalau jatuh di pasir kan makanannya jadi kotor,” ujarnya.

Surati, salah satu warga mengaku puas setelah mendapatkan beberapa hasil bumi dari gunungan dan uba rampe yang diperebutkan itu. ”Saya dapat terong, pare, kacang panjang. Lumayan buat sayur,” canda nenek berusaia 50 tahun itu.

Bahkan demi hasil bumi itu, warga dusun 15 Desa Karangsewu Kecamatan Galur tersebut rela harus terjatuh-jatuh saat berebut dengan puluhan warga lainnya. ”Saya sampai terseok-seok,” ujarnya.

Acara itu sendiri, diakui oleh Sudarwanto, baru pertama kali ini digelar secara besar-besaran. ”Sebelumnya, karena keterbatasan dana, kami hanya menggelar kecil-kecilan saja di rumah warga,” akunya.

Sedangkan pelaksanaannya, diakui oleh transmigran asal Dusun Siliran, Desa Karangsewu, Kecamatan Galur itu biasa digelar setiap 15 Sura. ”Karena kini warga ada rejeki berlebih, acara itu digelar besar-besaran seperti ini,” ungkapnya.

Tanggal 15 Sura, diyakininya merupakan tanggal yang istimewa. Secara spiritual, dirinya mengakui bahwa setiap di tanggal itulah, dirinya merasa bahwa kehidupannya selalu berubah. ”Hidup kami menjadi baru. Dan anehnya, kami merasakannya setiap tanggal 15 Sura itu,” ujarnya.

Merti dusun itu diakuinya adalah salah satu bentuk ungkapan rasa syukur terhadap Maha Pencipta terhadap segala nikmat yang diperoleh seluruh warga khususnya panen yang melimpah.

Selain itu juga merupakan harapan dan doa agar dijauhkan dari dampak-dampak buruk baik yang diakibatkan oleh alam maupun oleh manusia. ”Merti dusun ini sebagai bentuk doa warga kepada Tuhan agar dijauhkan dari dampak-dampak alam dan manusia sehingga tercipta kesejahteraan. Kami juga ingin memupuk dan melestarikan budaya Jawa yang akhir-akhir ini tergeser budaya kebarat-baratan,” ujarnya.

Diakuinya, sesaji atau uba rampe yang diarak dalam merti dusun itu hanya sebagai bentuk mengemas budaya Jawa sebagai seni. Sedangkan permohonan warga tetap ditujukan kepada Tuhan. Prosesi labuhan atau melarung uba rampe ke laut dilakukan karena laut merupakan muara dari semuanya. ”Sehingga semua apa yang menjadi kendala kami simboliskan dibuang ke laut. Jenang yang dilarung enam macam, antara lain jenang burabari, jenang gecko, dan jenang poncowarno. Tadi gunungan tidak diperebutkan di laut karena untuk menjaga keamanan dan agar makanan tidak kotor,” imbuhnya.






Lestarikan Budaya Lewat Koleksi Topeng

Ekspresi yang muncul serta detail mimik wajah topeng membuat Reno tertarik untuk mengumpulkannya, bahkan hingga mencapai total lebih dari 2000 topeng yang berasal seluruh penjuru Indonesia

Dengan pencahayaan yang temaram, membuat ruang itu semakin tampak suram, apalagi dengan pajangan berbagai pernak pernik etnik semakin memrebakkan suasana suram pada ruangan itu.
Memang, memasuki sebuah ruangan berluas kurang lebih 7 x 7 meter, jajaran barang antik, mulai dari patung-patung besar serupa menhir dan totem tampak berdiri kokh di salah satu sudut ruangan. Sedang di rak-rak yang berada di sudut lain, tampak patung kecil yang mirip boneka-boneka dari suku pedalaman yang terbuat dari berbagai bahan, mulai dari bahan menyerupai fiber, hingga kayu. Selain itu, beberapabuah guci, keramik, yang dilihat dari motifnya adalah motif Tionghoa kuno juga tampak tertata rapi di sudut yang lainnya.
Memandang sekeliling, ada yang akan menarik perhatian, yakni lemari-lemari kaca yang menempel di sepanjang dinding. Dalam lemari itu ada puluhan topeng yang berjajar.
Sambil memandangi jajaran topeng di dindingnya, adalah Reno Halsamer, sang pemilik topeng-topeng itu mencoba menjelaskan satu persatu jenis topeng yang dimilikinya.
Dia mengatakan bahwa secara keseluruhan dia memiliki 3 jenis topeng, yakni Topeng Panji, Kelono, dan Reksangbumi.
Mengenai Topeng Panji, Reno mengatakan bahwa topeng yang satu ini memiliki ekspresi yang menggambarkan pangeran. Untuk ini, dia menurunkan salah satu topeng dengan wajah bulat berwarna putih. Menurutnya, ada semacam kewibawaan seorang pangeran melekat pada pemakainya.
Selain itu dia juga menunjukkan bahwa topeng Panji memiliki ciri khas terdapatnya aksesoris-aksesoris yang menyimbolkan sesuatu. Tapi ketika ditanya mengenai simbol-simbol itu, pria yang juga memiliki bisnis hadycraft di Bali ini mengaku belum mengetahui makna dari simbol-simbol yang terdapat di topeng-topeng miliknya. “Topeng Panji dari Kediri, misalnya, kebanyakan pasti menggunakan daun waru sebagai aksesorinya, tapi saya ga tau apa artinya. Perlu dilakukan penelitian lebih jauh untuk ini”, terang Reno sambil mengelus detail wajah topeng yang ada di tangannya.
Lalu, dia menurunkan sebuah topeng dengan wajah berwarna merah dengan detail dahi yang berkerut-kerut. “Ini lho contohnya Topeng Reksangbumi”, terangnya.
“Sedangkan Kelono lebih mengekspresikan kemarahan”, tambahnya sambil mengembalikan topeng ke tempatnya semula. Dijelaskannya, Topeng Kelono ada yang digambarkan bertaring dan juga ada yang digambarkan berhidung panjang. “Kalau yang hidungnya panjang ini, namanya bapang. Sedang yang ada taringnya, disebut geger”, jelasnya sambil menunjuk salah satu topeng bertaring.
Ekspresi yang muncul dari topeng, serta detail-detail topeng membuat Reno tertarik untuk mengoleksinya. Selain itu juga karena baginya arus modernisasi telah menggerus seniman-seniman tradisional. Hilangnya seniman-seniman itu, disebabkan tidak adanya estafet kepada generasi muda. Inilah yang membuat Reno merasa perlu menjaga kelestarian topeng sebagai aset budaya Indonesia.
Topeng-topeng yang dikoleksi Reno merupakan topeng ritual dan pagelaran yang berasal dari seluruh penjuru Indonesia. Perbedaan topeng dari Jawa dan topeng yang berasal dari luar Jawa adalah pada warna wajahnya. Seperti yang dijelaskan Reno bahwa Topeng dari Jawa cenderung lebih bagus, sebab memiliki warna. Sedangkan dari luar Jawa lebih memilih warna asli dari kayunya. “Saya lebih suka topeng dari Jawa. Kalau dari luar Jawa itu ga ada. Jadi kayunya alami. Ga pakai warna”, terangnya.
Topeng ritual sering dipakai oleh penarinya ketika upacara-upacara adat. Sedangkan topeng pagelaran lebih bersifat hiburan. “Ini contoh topeng ritual,mas”, jelasnya sambil menunjuk 2 kotak berkaca yang berisikan masing-masing satu buah topeng dengan wajah berwarna putih dan satunya berwarna kuning.
Ketika ditanya mengenai ciri yang membedakan antara topeng ritual dengan topeng pagelaran, Reno menjelaskan bahwa bentuk topeng ritual cenderung lebih nyeleneh jika dibandingkan dengan topeng pagelaran. “Ini, mas contohnya topeng ritual yang lain, yang lebih serem. Serem kan?”, guraunya sambil menunjukkan topeng barong Bali yang berujud kala (raksasa, red) bersayap.
Dalam pagelaran, topeng juga sering dimanfaatkan sebagai bentuk perlawanan terhadap rezim yang berkuasa. Ditunjukkannya topeng dengan wajah berwarna putih, dengan memakai aksesori berupa topi kompeni, namun memiliki taring seperti kala.
Berburu Topeng
Dalam memburu topeng-topeng koleksinya, Reno harus berburu ke daerah-daerah yang sulit dijangkau. Dia mengaku bahwa untuk mendapatkan koleksinya, dia harus mencari kolektor-kolektor lain yang berniat untuk menjual koleksinya. Selain itu, terkadang dia tidak bisa menemukan topeng di daerah tempat pembuatannya. Oleh karena itu Reno mengandalkan balai-balai lelang. “Sekarang sudah susah menemukan topeng di daerah tempat pembuatannya. Contohnya Topeng Cirebon aja. Nyari topeng Cirebon pasti susah di Cirebon sendiri. Topeng itu sudah sangat langka di Cirebon. Topeng Malang juga sudah susah ditemukan di Malang”, ungkapnya sambil menurunkan topeng dengan wajah berwarna emas yang diyakininya berasal dari Malang.
Untuk mendapatkan topeng yang benar-benar asli, Reno memanfaatkan pengalaman dan kejeliannya dalam memilih. Tidak bisa dipungkiri, pengalaman mengakrabi topeng selama kurang lebih 10 tahun membuatnya tidak lagi sulit membedakan mana topeng yang asli dan mana yang palsu.
Biasanya dia melihat dari adanya kulit topeng bagian dalam yang menghitam karena tumpukan keringat dan daki dari si pemakainya. “Selain itu, goresan-goresan di dalamnya juga menandakan bahwa topeng itu asli”, tambahnya sambil mengelus-elus bagian dalam topeng.
Dari sekian banyak topeng yang dimilikinya, ada satu topeng yang menurutnya sangat unik. Topeng itu berujud Panji yang memiliki bentuk kepala seperti Buddha. Jadi sepintas tampak seperti patung kepala Buddha. Reno mengaku, yang membuat topeng Budha ini unik adalah bentuknya yang menyerupai Buddha, padahal di Cina sendiri Buddha tidak pernah diwujudkan dalam bentuk topeng. “Ini asli Jawa. Asal tahu saja, di Cina, Buddha tidak dibikinkan topeng, mas.”, akunya.
Karena usia topeng-topeng yang dimiliki Reno cenderung tua, maka tidak heran jika, serbuk-serbuk rayap sering muncul, namun untuk mengantisipasinya, Reno tidak sampai membayar pegawai untuk mengatasinya. Cukup dirinya sendiri yang menyemprot-topeng-topeng itu dengan obat anti rayap, meskipun diakuinya itu tidak sering. Selain itu faktor usia juga mempengaruhi daya tahan kayu topeng itu. Tidak sedikit pula topeng-topeng milik Reno yang patah karena kayunya lapuk.
Ketika ditanya, apakah koleksinya dijual atau tidak. Reno hanya tersenyum. Dia mengaku bahwa baginya mengoleksi topeng bukan untuk bisnis. “Sering orang asing ke sini untuk menanyakan harga topeng-topeng saya. Tapi saya ga bisa kasih. Ya... karena memang tidak dijual”, jelasnya.



Monday, May 30, 2011

Tari Angguk


Gemulainya Sang Prajurit





Pancasila...

Minongko dasar negoro...



Kalimat pembuka itu sudah mulai terdengar dari suara penyanyi perempuan yang bening melengking. Terasa begitu harmonis berpadu dengan suara bebunyian yang keluar dari kendang, bedug, tambur, kencreng, rebana, terbang, dan jidor ditabuh oleh 10 orang pemusik secara bersamaan.

Tak lama, 12 penari perempuan berkostum prajurit kompeni Belanda berlengan panjang hitam yang dibagian dada dan punggunya berhiaskan lipatan-lipatan kain kecil berwarna kombinasi merah-kuning. Kaki mereka yang berbungkus stocking warna kulit, tampak jenjang dengan balutan celana pendek ketat yang dihiasi pelet vertikal berwarna merah-putih di sisi luarnya. Rambut panjang mereka tertutup rapi oleh topi hitam yang tepinya diberi kain berwarna merah-putih dan kuning emas.

Sesuai dengan namanya, gerakan kepala keduabelas penari ini terlihat seperti mengangguk-angguk. Ini membuat 2 jambul bulu yang terpasang di depan topi mereka.

Perempuan yang awal masuk panggung berlagak seperti pria itu, kemudian perlahan mulai menampilkan gerakan-gerakan tarian yang terlihat berbeda saat pertama kali mereka memasuki panggung.

Seiring dengan lantunan musik yang temponya pun semakin meninggi, 12 perempuan cantik itu semakin larut dalam menggerakkan tangan kepala, bahu bahkan pinggul dan pantat mereka. Tak heran, tarian ini memang lebih memperlihatkan eksotisme gerakan pinggul dan kirig (bahu).

Di sesi terakhir, 2 orang penari tampak semakin liar. Inilah yang disebut dengan trance (ndadi). Kedua penari yang memang tengah kerasukan ruh halus ini semakin tak terkontrol. Mulai dari gerakan tari yang semakin menjadi, hingga pada aksi makan sesaji, dan kemenyan.

Masyarakat mengenal tarian ini dengan sebutan Angguk. Terlepas dari nama yang memang disesuaikan dengan gerakan kepala penarinya yang mengangguk-angguk, tarian ini dikenal sebagai tarian khas Kulonprogo.

Tak mudah memang, merunut asal mula darimana pertama kali tarian ini berasal. Namun yang pasti, tarian ini tidak hanya terdapat di Kulonprogo.

Diakui sendiri oleh Sri Wuryanti Surajio, seorang seniman pendiri sanggar tari Angguk Sri Panglaras Kulonprogo, bahwa memang tidak hanya di Kulonprogo saja Tari Angguk terdapat. Ternyata di beberapa daerah lain seperti Purworejo, bahkan Wonosobo.

Bahkan, diakuinya pula, Tari Angguk ditengarai memang berasal dari Desa Bagelen, yang kini secara administratif masuk wilayah Kabupaten Purworejo. ”Tapi kan memang lokasinya berdekatan dengan kami,” ujarnya.

Memang, sanggar miliknya bisa dikatakan sebagai satu-satunya sanggar yang pertama kali kembali mempopulerkan Tari Angguk di Kulonprogo. ”Saat itu sekitar tahun 1991,” ucapnya.

Dikisahkannya, jauh sebelum itu, sekitar tahun 1950an, sebenarnya Tari Angguk pertama kali masuk ke Kulonprogo. Awalnya, tarian ini dimainkan sebagai tarian pergaulan para remaja dan biasa digelar setelah musim panen tiba sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan. Namun, ketika masuk ke Kulon Progo, tarian ini kemudian dimainkan oleh kaum laki-laki. Tetapi sekitar tahun 1970, terjadi pergeseran sehingga dimainkan oleh kaum perempuan dengan dirintisnya beberapa kelompok kesenian Tari Angguk putri yang dirintis oleh Sri Panglaras dimana saat itu masih bernama Sri Lestari.

Meski hingga kini belum ditemukan keterangan yang jelas alasan perubahan penari tersebut, namun faktor komersialisme dan tuntutan pasar hiburan diperkirakan menjadi tolok ukur perubahannya, karena tidak dapat dipungkiri bahwa dalam dunia hiburan penari perempuan lebih menarik jika dibandingkan dengan pria.

Hal ini tidak bisa dipungkiri, bahkan oleh Sri sendiri. Menurutnya, selain lebih luwes, ternyata masyarakat dalam hal ini penonton, lebih menyukai seorang penari perempuan daripada laki-laki.

Dengan alasan inilah kemudian, Sri memodifikasi gerakan yang memang semula dilakukan oleh laki-laki. ”Tanpa mengubah peran, hanya memodifikasi gerakan,” tukasnya.

Diakuinya, tak benar jika ada orang mengatakan Tari Angguk sudah ditinggalkan. Buktinya adalah dengan masih eksisnya sanggar Tari Angguk miliknya yang berada di Pripih, Desa Hargomulyo, Kecamatan Kokap.

Jika awalnya, Tari Angguk lebih bersifat sakral, dengan menggunakan tetembangan yang diambil dari Kitab Barzanji yang menceritakan bahasa Arab sebagai bahasa pengantarnya. Kini, lantaran semakin banyaknya permintaan dari kalangan non religi, maka syair-syair Islami pun kini sudah bergeser ke syair-syair yang bersifat nasionalis. ”Tapi masih menggunakan bahasa Jawa,” ungkapnya.

Sedangkan Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudparpor) Kulonprogo, Sarjana mengatakan bahwa pihaknya terus melakukan pembinaan kepada setiap seniman yang ada di Kulonprogo. ”Salah satunya adalah dengan penyelenggaraan Festival Kesenian Rakyat yang dilaksanakan beberapa hari lalu,” ucapnya.

Selain itu, dirinya juga menegaskan bahwa pihak Disbudparpor kini tengah mengupayakan promosi wisata dengan menggunakan Tari Angguk sebagai salah satu ikonnya.

Sedangkan dari pihak Dewan Kebudayaan Kulonprogo (DKPP), Imam Syafei, ketua DKPP mengatakan bahwa pihak pemerintah jangan hanya memanfaatkan Tari Angguk sebagai ikon simbol promosi wisata saja, melain kan juga harus sesegera mungkin menerbitkan kebijakan-kebijakan yang bersifat protektif terhadap seni tradisonal asli Kulonprogo, tak terkecuali Tari Angguk.

Menurutnya, upaya protektif tersebut kini sangat diperlukan untuk melestarikan kesenian tradisional. Upaya protektif tersebut menurutnya bisa dilakukan oleh Dinas Pendidikan dalam hal pembinaan.

Terkait hal ini, Kepala Seksi Pendidikan Kesenian Pelajar Joko Mursito mengatakan, meski Tari Angguk kini digolongkan sebagai kesenian unggulan yang telah mandiri, namun bukan berarti pembinaan tidak diperlukan. ”Untuk ini kami menyerahkan sesuai dengan kebijakan sekolah masing-masing untuk menempatkan pendidikan tari ini pada kurikulum muatan lokalnya,” ucapnya.

Sunday, May 29, 2011

KESENIAN PANJIDOR

"KESENIAN PANJIDOR"

Bertahan tanpa harapkan belas kasihan


Atur rombo para sesura

blajarane kulonprogo

samiya ingkang samiya

rawuh mriksa ingkang samiya rawuh


Bening dan berat suara penyanyi yang keluar dari corong mikrofon dengan nada timur tengahan terdengar meriuh seiring bunyi rebana yang ditabuh bersama jidor, dan stambul.

Selang beberapa saat, barulah seorang pria masuk ke dalam pentas diikuti oleh seorang pria lain yang berperut lebih buncit. Setelah puas bergaya bak seorang prajurit, kedua pria itu lantas bercakap-cakap dengan menggunakan bahasa Jawa.

Merekalah Umarmaya dan Umarmadi. Dalam Babad Menak, kedua tokoh ini memang seperti menjadi aktor utamanya. Sesuai dengan cerita sebenarnya, dalam setiap pementasan Panjidor, Umarmadi memang selalu ditampilkan dalam bentuk tokoh lelaki berperut buncit dan bergelagat jenaka. Sejatinya, sama halnya dengan Umarmaya, Umarmadi juga merupakan seorang penguasa, hanya saja jika Umarmaya adalah raja, Umarmadi adalah seorang Kepala Penasehat dari Raja Menak, raja yang hendak dikalahkan oleh Umarmaya. Akhirnya dirinya dikalahkan oleh Umarmaya hingga akhirnya keduanya menjadi kawan baik, dan kemudian Raja Menak pun berhasil ditaklukkan.

Begitu pula dalam pentas tarian yang nota bene merupakan satu-satunya di Indonesia ini, kedua tokoh ini memang menjadi pusat cerita.

Adalah Panjidur, nama tarian yang berasal dari Jambon, Desa Donomulyo, Kecamatan Nanggulan ini memang merupakan tarian yang ceritanya mengadopsi dari babad Menak yang menceritakan tentang peperangan antara orang mukmin dengan kaum kafir. ”Sehingga kebanyakan memang cerita tentang pasukan Paserbumi,” ungkap Ponijo, pembina kelompok Panjidur Langen Kridhatama yang merupakan kelompok kesenian pemilik Panjidur.

Meski tidak sepopuler dan setua Tarian Angguk, ternyata siapa yang menyangka jika Panjidur ini juga terbilang berusia sudah cukup tua. Betapa tidak, tarian ini sudah ada di Kulonprogo sejak 1948. Saat itu, Sastrodiwiryo, seorang tokoh seni asli Kulonprogo mendirikan Kelompok Seni Langen Kridhatama.

Saat itu pula, seniman tersebut mengembangkan gerakan-gerakan tarian yang terilhami oleh kisah peperangan yang terdapat di Babad Menak, atau yang biasa dikenal dengan Perang Babad.

Hingga kini, Kelompok Seni Langen Kridhatama telah diturunkan kepada beberapa generasi. Meski demikian, ternyata tidak ada perubahan kecuali hanya sebatas modifikasi-modifikasi gerakan yang memang disesuaikan dengan karakter para penarinya. ”Kalau syair-syairnya tetap diturunkan dari dulu-dulu. Kalaupun ada yang berubah, itu mengikuti pesanan,” candanya.

Kini, meski tak mendapatkan dukungan finansial dari pemerintah barang sepeserpun, kelompok kesenian itu tetap bertahan dengan keadaan yang seadanya.

Untuk mencukupi kebutuhan 60 orang anggotanya, tentu Ponijo harus memutar otak. Oleh karena itulah, kemudian dia coba mengomersilkan Panjidor. Tentu saja dengan dikomersilkan seperti itu, selain dirinya kemudian bisa menghidupi seluruh anggota kelompoknya, dirinya juga bisa lebih menyebarluaskan Panjidor hingga keluar Kulonprogo, bahkan sesekali, dirinya mendapat tawaran untuk bermain di luar DIY.

Biasanya, jika melayani pesanan seperti itu, kelompoknya sanggup menari semalam suntuk. Baginya, ini lebih mudah. Ibarat sebuah pentas teater, Panjidor yang ditampilkan semalam suntuk merupakan sebuah jalinan cerita yang utuh. ”Kalau kami pentas semalam suntuk, ada penari perempuan yang akan tampil,” ucapnya.

Memang, idealnya, Panjidor ini hanya dibawakan oleh laki-laki. Selain karena memang menceritakan tentang kisah prajurit, gerakan-gerakan Panjidor ini memang sejak awal sudah diciptakan untuk laki-laki. ”Jadi agak sulit jika ditarikan oleh perempuan. Kalaupun ada perempuan hanya sebagai figuran saja,” ucapnya.

Dengan uang hasil tanggapan yang berkisar antara Rp. 4-6 juta setiap kali tampil itulah, kelompok tersebut bisa bertahan. Mulai dari pembelian konsumsi untuk latihan yang digelar setiap sebulan sekali pada malam minggu wage hingga pengadaan kostum diambilkannya dari uang hasil tanggapan itu. ”Itu pun kami dapat tanggapan tidak rutin setiap bulan ada,” ucapnya.

Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudparpor) Kulonprogo Sarjana mengakui bahwa selama ini memang belum ada perhatian secara khusus terhadap masing-masing kelompok seni. ”Tapi kami berupaya untuk terus memberikan apresiasi dan proteksi terhadap kesenian-kesenian asli Kulonprogo, salah satunya adalah Panjidor ini,” ungkapnya.