Showing posts with label Sastra. Show all posts
Showing posts with label Sastra. Show all posts
Wednesday, October 31, 2012
Secangkir Kopi Segudang Gagasan
Harga yang murah, jajanan yang beraneka, adalah alasan mengapa orang datang ke warung kopi. Secangkir kopi, sebatang dua batang rokok, merupakan syarat mutlak penghuni warung kopi. Sedangkan bagi mereka yang tidak merokok, secangkir kopi dan beberapa gorengan adalah sajian nikmat dari warung kopi yang semakin hangat.
Bagi segelintir orang, warung kopi juga merupakan tempat yang cocok untuk menumpahkan gagasan. Tidak jarang lahir gagasan besar dari tempat kecil macam begini. Beberapa komunitas yang menelorkan wacana-wacana kritis juga banyak lahir di tempat sepele seperti ini.
Ambil contoh, Cak Die Rezim (CDR), Forum Studi Sastra dan Seni Luar Pagar (FS3LP), dan Komunitas Orang-Orang Penggemar Indie Film (KOPI) STIKOSA AWS. Ketiga komunitas ini merupakan bukti bahwa kopi dan warung kopi merupakan awal lahirnya gagasan penting justru dari tempat yang kerap dianggap remeh.Seperti yang dijelaskan oleh Risang, salah seorang penulis CDR bahwa CDR lahir dari kegelisahan para penulis muda melihat kondisi penulis-penulis muda yang memprihatinkan karena adanya monopoli dan dominasi dari beberapa kelompok. Pada awalnya kegelisahan ini hanya sekedar kegelisahan yang tidak terlampiaskan. Dari secangkir kopi, diskusi mulai berawal. “Dengan CDR kami para penulis muda punya wadah untuk mempublikasikan karya, sekaligus menelorkan wacana-wacana baru tentang sastra”, terangnya.
Berbeda lagi dengan FS3LP. Komunitas yang melahirkan banyak sastrawan muda ini berawal dari warung kopi yang mereka namakan sendiri dengan sebutan ‘Mak’. Di tempat ini, mereka biasa berkumpul. Bahan obrolan biasanya muncul begitu kopi mulai disruput. Ketika ditanya mengenai rasa kopi dari ‘Mak’, Denny Jatmiko mengatakan ‘Mak’ merupakan tempat yang paling ideal bagi mereka untuk berkumpul. Bahkan, nama FS 3LP sendiri, diambil dari tempat ini. Nama Luar Pagar dalam singkatan FS3LP diambil dari tempat mereka nongkrong yang berada tepat di luar pagar kampus.
Selain itu, komunitas kreatif lain yang tercipta dengan berlatar belakangkan kopi adalah KOPI. Komunitas ini terbentuk pada tahun 2002. Nama kopi diambil dari tempat dimana gagasan untuk mendirikan sebuah kelompok pecinta dan penggiat film indie pertama kali muncul, yakni di warung kopi.
Komunitas-komunitas yang lahir dari warung kopi merupakan komunitas yang anggotanya lebih memiliki sifat solider. Solidaritas ini lahir karena persamaan yang mereka rasakan ketika sudah berada di warung kopi. Secangkir kopi yang mereka pesan pada dasarnya menjadi bukti bahwa tidak ada yang perbedaan di warung kopi. Semua sama. Sebab yang mereka makan, minum dan pesan pun tidak memiliki harga yang jauh berbeda. Ini yang membuat mereka kemudian merasa sama. (*)
Aku Berkarya Maka Aku Ada
Eksistensi sastra Jawa hanya bergantung pada sastrawannya. Minimnya media berbahasa Jawa mereka harus berjibaku menerbitkan karyanya sendiri.
Media berbahasa Jawa boleh dikatakan sangat minim. Di Surabaya media yang ada hanya dua, Jaya Baya dan Panjebar Semangat. Itupun terbit hanya untuk kalangan tertentu yang berminat dengan bahasa Jawa. Di dua media ini, bisa dikatakan budaya Jawa, secara libih luas mampu disiarkan. Selain itu bila dibandingkan dengan sastra daerah lain, sastra Jawa masih memiliki tempat yang cukup menguntungkan. Hal ini disebabkan penutur bahasa Jawa memang masih terbilang cukup banyak.
Meski demikian bukan berarti praktisi sastra Jawa banyak bermunculan. Kenyataannya, tidak banyak sastrawan yang mau secara total berkarya demi kemajuan dan keberadaan sastra Jawa. Oleh karena itu, bisa dikatakan, sastra Jawa semakin terjepit di tengah banyaknya penutur bahasa Jawa.
Keterjepitan sastra Jawa tidak hanya didasarkan pada jumlah sastrawan yang sedikit, namun juga pada perkembangan wacana mengenai kesusasteraan Jawa yang hanya berkutat pada segelintir orang saja. Namun demikian, sastra Jawa punya cara sendiri untuk terus hidup. Salah satunya adalah berkarya.
Suparto Brata, seorang pengarang sastra Jawa sepakat bahwa kondisi sastra Jawa kini cukup memprihatinkan. Diakuinya, banyak sastrawan yang mengaku sastrawan Jawa, namun eksistensinya dalam membangun dan mempertahankan sastra Jawa malah harus dipertanyakan kembali.
Baginya, meski secara komersialitas tidak segemilang dengan karya-karyanya sastra Indonesia, namun dirinya masih tetap berupaya semaksimal mungkin untuk berkarya di ranah sastra Jawa. ”Yang penting bagi saya adalah berkarya. Dengan berkarya maka sastra itu ada,” papar Suparto.
Selain karya, eksistensi budaya Jawa yang didalamnya juga ada sastra Jawa dan bahasa Jawa, harus ada perhatian dari pemerintah. Suparto mencontohkan, penetapan hari Bahasa Ibu oleh pemerintah ternyata juga tidak maksimal. Meski sudah ada perda yang mengatur untuk hal itu, namun pada kenyataanya pelaksanaan akan hal itu masih belum ada.
Selain itu, ditambahkan oleh Suparto, kongres juga diadakan sebagai salah satu jalan untuk menyatukan visi dan misi dalam mempertahankan kelestarian bahasa Jawa. Dikatakannya, kongres Bahasa Jawa yang diadakan juga seharusnya bisa menjadi jalan untuk mempertahankan kelestarian bahasa Jawa. Akan tetapi, diakuinya, kongres yang sudah berusia 15 tahun tersebut masih belum menghasilkan sesuatu yang konkret.”Malah menghabiskan dana bermilyar-milyar,” ujarnya.
Hal tersebut didukung oleh Bonari Nabonenar. Menurutnya akan lebih baik jika uang yang digunakan untuk membiayai kongres-kongres semacam itu, digunakan untuk memberikan apresiasi terhadap komunitas dan elemen-elemen lain yang mendukung keberadaan bahasa Jawa tersebut.
Ditemui secara terpisah, Widodo Basuki, pengurit sastra Jawa, sependapat dengan Suparto Broto. Menurut wartawan Jaya Baya ini, sastra Jawa hanya bisa eksis karena perjuangan para sastrawan secara mandiri. ”Banyak sastrawan Jawa yang masih separuh hati untuk bergelut dengan budaya Jawa ini,” kata Widodo yang pernah meraih penghargaan Rancage dari Ayib Rosidi, tahun 2000.
Widodo menceritakan, selama ini dirinya, terus berusaha menerbitkan puisi-puisi Jawanya meski harus mendanai sendiri. Menurutnya ini kenyataan yang tidak bisa dihindarkan. Daripada mengeluh terus tidak adanya media massa yang menampung puisi Jawa, Widodo, berusaha mengumpulkan puisi-puisinya dengan cukup memfotokopi.
Mantan ketua komite sastra Dewan Kesenian Surabaya periode 1998-2003 ini juga pernah diundang Dewan Kesenian Jakarta untuk membacakan kupulan puisi jawanya Layang Saka Tlatah Wetan (1999). “Selama ini saya terus mencoba konsisten pada sastra Jawa,” tambahnya.
Tidak berbeda dengan Sri Setyowati atau biasa disapa Trinil, juga lebih aktif menerbitkan buku karya sastranya sendiri. Keterlibatannya dengan media massa dimulai tahun 1998. sejak tahun itu Trinil aktif menulis reportase untuk majalah Jaya Baya, Tabloid Bromo, Kidung, dan Penjebar Semangat. Selain menulis dengan menggunakan dialek Suroboyoan, Trinil juga menulis dengan gaya bahasa Mataraman (Jawa halus).
Keterlibatan Trinil pada dunia perpuisian memang belum lama. Tetapi beberapa puisinya sudah pernah terkumpul dalam Kabar Saka Bendulmrisi, suntingan Suharmono Kasiyun yang diterbitkan Dewan Kesenian Jawa Timur dan Sastra Campursari suntingan Bonari Nabonenar yang diterbitkan oleh Taman Budaya Jawa Timur.
Selain menulis puisi, Trinil juga menulis crita cekak (cerpen, red) yang dimuat di Jaya Baya dan Panjebar Semangat. Trinil ternyata juga sudah menerbitkan buku cerita anak berjudul Kasih Sayang yang Tak Padam. Selain itu Trinil juga sudah menerbitkan novel bahasa Jawa, Sarunge Jagung.
Joko Prakoso, dosen Sekolah Tinggi Karawitan Wilwatikta (STKW), menekankan seharusnya sastra Jawa dipahami sebagai wilayah tersendiri yang terpisah dari wilayah lain. Hal ini disebabkan sastra Jawa memiliki pecinta dan peminat sendiri yang berbeda dengan sastra nasional atau sastra Indonesia.”Sastra Jawa tidak bisa dipertandingkan dengan sastra-sastra lain,” ujarnya.
Agar tidak terkesan kuno dan semakin ketinggalan zaman, dikatakanyanya, harusnya sastra Jawa harus menyesuaikan dengan zamannya.”Campursari adalah bukti sastra Jawa sudah bisa diterima oleh masyarakat banyak,” pungkas Joko
Tuesday, August 30, 2011
Malam Lebaran, Bulan di Atas Kuburan
Salah satu puisi yang paling banyak diperdebatkan maknanya adalah “Malam Lebaran” karya Sitor Situmorang. Puisinya cuma sebaris, “bulan di atas kuburan”. Pertama puisi itu sangat pendek. Kedua, malam lebaran yang berarti malam 1 Syawal, adalah saat di mana bulan sama sekali tidak kelihatan.
Dan saya tak ingin memperpanjang debat itu.
Lebaran adalah hari kemenangan, tetapi juga kekalahan; kekalahan bagi yang tak berhasil meningkatkan barang segaris kualitas kemanusiaannya, juga kekalahan bagi yang tak bisa membelikan barang sepotong baju baru untuk anaknya.
Hari kemenangan itu telah menjadi beban, karena terjadi pengeluaran besar-besaran. Ironis, ketika hari kemenangan justru disambut dengan kepanikan, kenaikan harga-harga barang, dan penambahan saldo utang.
Segala hal telah berkiblat kepada kebendaan. Tak ada lagi yang peduli menyelami, apa yang semestinya terjadi di Idul Fitri. Apakah merenungi, menelanjangi jiwa sendiri, atau ke sana ke mari wara-wiri dengan baju baru dan gemerlap perhiasan warna-warni. Mengapa menjelang hari itu segalanya justru menjadi sesak; mall, pasar tradisional, toko sembako, seperti sesaknya dada si fakir yang tak tau harus membelanjakan apa menyambut hari raya, sesak pengap membekap, padahal namanya lebaran, bukan sempitan.
Jika begitu, lebaran memang menjadi bulan di atas kuburan. Pedih, menyayat, sepi, mencekik.
Subscribe to:
Posts (Atom)

