Label

Seni (14) Features (8) Informasi (8) Budaya (6) Puisi (5) Tokoh (4) Lensa (3) Sastra (3) Buku (2) Umum (2) Cerpen (1) Komunitas (1) Resensi (1)
Showing posts with label Tokoh. Show all posts
Showing posts with label Tokoh. Show all posts

Wednesday, August 17, 2011

Penyair Jerman Johan Wolfgang Von Goethe Dikabarkan Telah Memeluk Islam Sebelum Wafat



Beberapa bulan lalu, karya-karya sastra dunia dan sastrawan terbesar Jerman Johan Wolfgang von Goethe, berkeliling Jawa Tengah. Yang membawanya adalah ahli sastra Indonesia Universitas Bonn yang juga penerjemah seri sastra Jerman, Berthold Damshäuser, didampingi sastrawan perempuan yang baru kembali dari Jerman, Dorothe Rosa Herliany, dan penyair Susiawan Leak.

Rangkaian pembacaan dan diskusi sajak-sajak karya Goethe ini dilangsungkan di Universitas Sunan Muria Kudus, Universitas Diponegoro Semarang, Taman Budaya Surakarta Solo, dan Pondok Pesantren Tegolrejo. Acara berlangsung saat-saat peringatan Maulud Nabi.

Apa hubungannya peringatan Maulud Nabi, pesantren dan penyair Jeman? Simaklah sajak ini:

“Jika ada yang murka karena Tuhan berkenan. Berkati Muhammad kebahagiaan dan lindungan, Sebaiknya dia pasang tambang kasar. Pada tiang rumahnya yang terbesar. Biar ikatkan diri di sana! Tali itu cukup kukuh. Akan ia rasakan murkanya meluruh.”

Anda tidak salah. Ini adalah karya penyair romantik Jerman Johan Wolgang von Goethe, yang lahir tahun 1749, dan meninggal tahun 1832. Judulnya, Sabda Sang Nabi atau Der Prophet Spricht. Dan yang disebut-sebut memang benar adalah Muhammad SAW, Nabi umat Islam.

Tanpa banyak kita tahu, Goethe, sastrawan terbesar Jerman adalah manusia yang sangat dekat dengan Islam. Bahkan ia tak menolak ketika orang mengganggapnya sebagai seorang Muslim. Seperti dikatakan penerjemah karya-karyanya, Berthold Damshäuser. Damshäuser menyebut, Goethe pernah mengaku bahwa ia merasa lebih dekat dengan agama Islam daripada agama Kristen.

Damshäuser mengaku bangga bahwa tokoh budaya Jerman adalah seorang seperti Goethe, tapi lebih bangga lagi bahwa bangsa Jerman tidak pernah ada masalah karena Goethe mengaku jauh dari agama Kristen yang dianut sebagian besar rakyat Jerman, dan justru lebih dekat dengan agama “asing”. Ini sebuah pertanda baik bagi bangsa Jerman.

Tak sedikit yang menganggap Goethe memang memeluk Islam, selain dipandang sebagai salah satu perintis utama dialog Islam dan Barat. Tentu bukan oleh satu puisinya Sabda Sang Nabi tadi, melainkan oleh banyak sekali karya, seperti sajak Kitab Kedai Minuman atau Das Schenkenbuch:

“Apakah Al-Quran abadi? Itu tak kupertanyakan! Apakah Al-Quran ciptaan? Itu tak kutahu! Bahwa ia kitab segala kitab, sebagai muslim wajib kupercaya. Tapi, bahwa anggur sungguh abadi, Tiada lah ku sangsi; Bahwa ia dicipta sebelum malaikat, mungkin juga bukan cuma puisi. Sang peminum, bagaimanapun juga, Memandang wajahNya lebih segar belia.”

Di sajak ini kita menyimak ungkapan penyerahan diri kepada Al-Quran sebagai kitab suci umat Islam, sekaligus juga pemujaannya terhadap anggur. Bahkan menyiratkan bahwa penikmatan sejati terhadap anggur, justru mampu membawa pada religiusitas sejati pula. Suatu sikap yang banyak ditemukan dalam sufisme Islam.

Damshäuser juga menegaskan bahwa Islam yang dikenal, didalami, dan dikagumi Goethe memang Islam yang damai, sejuk, jernih, terbuka. Bukan jenis yang diperlihatkan oleh kaum yang kaku, radikal, penuh penghakiman dan pemarah, sebagaimana banyak muncul beberapa belas tahun belakangan ini.

Islam yang indah, sikap keagamaan yang indah pula. Itulah yang tampak pada Islam dalam sajak-sajak Goethe. Misalnya lagi, sajak Wasiat:

“Tiada makhluk runtuh jadi tiada! Sang abadi tak henti berkarya dalam segala, Pada sang Ada lestarikan diri tetap bahagia! Abadilah ia: karena hukum-hukum suci. Melindungi khasanah-khasanah hayati, Dengan semesta menghias diri. Kebenaran sejak lama silam ditemukan, Telah pula mempertemukan ruh-ruh mulia. Kebenaran azali itu, peganglah dalam genggaman! Kau, putra bumi, bersyukurlah pada sang Bijaksana. Yang tunjukkan jalan bagi bumi tuk kita mentari”

Menurut Damshäuser, Wasiat merupakan salah satu puisi yang cukup sulit dipahami, namun dianggap penting dan mewakili kepemimpinan Goethe. Ditulis ketika di Eropa muncul pemikiran skeptis. Puisi yang mengajak pembaca memasuki segi-segi keimanan dalam diri masing-masing.

Tetapi bisa jadi sebagian besar karya Goethe memang tergolong sulit, jika bicara tentang upaya alih bahasanya. Terlebih penerjemahan ke dalam Bahasa Indonesia, yang berbeda sama sekali akarnya dengan Bahasa Jerman.

“Karya-karya Goethe cukup sulit karena puisinya punya ciri khas metrum jadi irama tertentu dan rima akhir agak sulit. Dan kadang-kadang tidak berhasil untuk mentransfer rama khas itu dengan rima akhir yang sama ke dalam Bahasa Indonesia. Itu pekerjaan yang rumit. Proses yang cukup pelik dan panjang,” dikatakan Berthold Damshäuser, mengisahkan perjuangannya mengalihbahasakan karya-karya Goethe ini.

Karya-karya Goethe ini sebetulnya tahun 2009 lalu pernah pula dikelilingkan ke beberapa kota lain di Indonesia. Namun kembali ditampilkan, kali ini di Jawa Tengah, karena karya-karya unik Goethe terkait Islam. Dan sebagai salah satu perintis dialog Timur Barat, membuatnya selalu perlu untuk terus diperkenalkan ke kalangan lebih luas.

Dikatakan Berthold Damshäuser, “Johan Wolfgang von Goethe adalah seorang penyair, penulis prosa, dramawan, bahkan pelukis dan penemu. Dianggap sebagai sastrawan terbesar Jerman, sehingga namanya diabadikan sebagai pusat kebudayaan Jerman di seluruh dunia. Ia juga dianggap salah satu sastrawan periode Romantis yang paling berpengaruh di seluruh dunia.

Perjalanan Goethe melintasi tanah Arab dan Persia membuatnya terpukau pada kebudayaan Timur, dan membawa Goethe pada ketertarikan kuat untuk mempelajari Islam. Hingga di tahun 1815 tercipta kumpulan puisi Diwan Barat Timur. Salah satu karya penting dari sastrawan penting dunia yang mempertemukan Timur dan Barat dalam suatu dialog. Sebagaimana muncul dalam sajak Mukadimah Diwan.

“Yang kenal diri juga sang lain. Di sini pun kan menyadari:Timur dan Barat berpilin. Tak terceraikan lagi. Arif berayun penuh manfaat. Di antara dua dunia; Melanglang timur dan barat. Mencapai hikmah mulia.”

“Andai sang mata tiada bersifat mentari, mentari tak sanggup dilihat olehnya; Andai dalam diri tiada daya Ilahi, Bagaimana keilahian sanggup birahikan kita?”

Karya-karya yang dibacakan dan didiskusikan di Jawa Tengah itu dipetik dari terjemahan sajak-sajak pilihan Goethe dengan judul Diwan Barat-Timur. Ini merupakan seri puisi Jerman ke-4 dalam versi Bahasa Indonesia. Sebelumnya telah terbit kumpulan pilihan karya Paul Celas, Rainer Maria Rilke dan Berthold Brecht. Terakhir telah terbit pula kumpulan pilihan karya Hans Magnus Enzensberger, dan sebentar lagi akan terbit kumpulan pilihan karya Nietszche

Thursday, August 27, 2009

Pilih Ngisi Jedhing, Apa Ngisi Ceramah


Monggo pinarak, mas....

Tepangaken, niki foto kula kaliyan Cak Sapari pas dhateng Australia...

Yang dimaksud foto itu tentu bukan foto dirinya, melainkan foto dua ekor kucing yang biasa dijual di pasar-pasar. Celetukan ‘aneh’ semacam itu sudah biasa meluncur dari pelawak ludruk Kartolo. Ia menyambut saya seperti menyambut teman ludrukannya, slengeken.

Itulah keseharian seniman ludruk yang namanya melambung di era 1980-an itu. Guyonan dan dagelan selalu muncul meski dirinya sedang berusaha berbicara serius.

Itulah salah satu ciri yang membuat Kartolo mendapat tempat di hati penggemarnya. Ini pula yang membuat budayawan Sindhunata mengabadikan Kartolo lewat buku Ilmu Ngglethek Prabu Minohek. Menurut Sindhunata, jalan hidup Kartolo memang begitu sederhana. Sangat ngglethek (pasrah).

Kesederhanaan itu tercermin dari gaya hidupnya. Sosok Kartolo yang biasa dikenal sebagai pria yang slengekan, ternyata ketika berada di rumah, ia seorang ayah yang cenderung pendiam.

Ruang tamunya juga kelihatan sederhana. Ada tiga set sofa dengan berbagai hiasan dinding, mulai dari berbagai piagam penghargaan yang dipigura rapi, hingga bebarapa buah foto keluarga dan foto Masjidil Haram besar yang terpampang di dinding sebelah kanan. Cara berpakaianpun juga kelihatan sederhana. Sehari-harinya ia hanya berkaos oblong putih yang dimasukkannya rapi ke dalam celana kain.

Meski nuansa humor dan guyonan kerap muncul tanpa sadar, namun diakui oleh pelawak kelahiran Watuagung, Prigen, Pasuruan tersebut dirinya juga terkadang ingin tampil serius dan khidmat, khususnya ketika berada di tempat ibadah.

”Kadang anggepane wong, wong ludruk itu jauh dari jalan agama,” kata Kartolo, kali ini dengan mimik serius.

Namun anggapan itu ditepisnya. Paling tidak, apa yang dialami jauh dari kesan orang yang tidak nyanthol agama. Bagi suami Kastini ini, keberadaannnya sampai seperti saat ini tak lepas dari kersaning sing gawe urip.

Betapa tidak, pada awal karirnya dulu, ia juga seperti pemain ludruk lainnya. Pindah dari gedong satu ke gedong lainnya. Namun pengalaman itu yang akhirnya menempa dirinya.

”Yang ada di otak saya waktu masih ngeludruk di gedong-gedong, ya cuma makan, tidur. Itu saja. Lha wong saat itu, bisa makan dua kali sehari saja sudah untung,” kata pemeroleh penghargaan ‘Seniman Berprestasi 2005’ dari Gubernur Jawa Timur Imam Utomo.

Hasil dari lara lapa itu menemukan titik baliknya sekitar tahun 1978. Tahun itu dicatat Kartolo sebagai awal dari karirnya di dunia ludruk. Pelawak kelahiran 2 Juli 1947 tersebut, mengaku pernah bermimpi ada suara dalam tidurnya yang mengatakan waktu yang dimilikinya hanya tersisa tiga tahun. Setelah mengalami mimpi itulah, kemudian Cak Tolo, panggilan akrab Kartolo, mulai mengakrabi dunia religius.

Dirinya mulai berpikir pada dasarnya manusia dilahirkan ke bumi dalam kondisi yang lemah. Saat itu, baginya manusia tidak ubahnya hanya makhluk yang memiliki kekuatan yang sangat terbatas. ”Di titik tertentu, manusia itu tidak punya dan tidak bisa berbuat apa-apa,” ujarnya.

Setidaknya prinsip itulah yang kemudian membuat Kartolo muda kemudian beralih menjadi sosok yang religius, sebuah sifat yang tidak lagi dialaminya setelah dirinya bergabung dengan ludruk.

Memang, masa kecil Kartolo yang dihabiskan di Watuagung, Prigen, Pasuruan, merupakan masa kecil yang selain dekat dengan kesenian, juga dekat dengan agama. Selain berkesenian, yakni karawitan, Kartolo kecil juga dididik agama dengan cukup disiplin, mengingat lingkungan dimana Kartolo tinggal merupakan lingkungan yang bisa dikatakan sebagai lingkungan santri.

Ternyata benar, setelah tiga tahun Kartolo ternyata mengalami sesuatu hal yang benar-benar kemudian mengubah jalan dan nasib hidupnya. ”Kurang lebih di tahun 1980, saya kemudian ditawari rekaman oleh Nirwana Record. Sejak itulah nasib saya berubah drastis,” ungkapnya.

Sejak bergabung dengan Nirwana Record, Kartolo Cs sudah menghasilkan 90 kaset rekaman lakon ludruk. Ini dihasilkannya dalam kurun waktu 1980-1995. Jika dirata-rata, setiap dua bulan sekali Kartolo Cs menghasilkan satu kaset.

Beberapa kaset yang pertama kali ditelurkannya adalah Peking Wasiat dan Welut Ndase Ireng. Sedangkan kaset yang terakhir diproduksi adalah Rujak Kikil. Kaset ini keluar pada 1995, persis saat Basman, rekan pemain ludruk, meninggal dunia.

Sejak lawakannya direkam di pita kaset, hidupnya berubah menjadi lebih baik seiring dengan larisnya kaset rekamannya serta semakin banyaknya job dan show yang dilakoni bersama teman-temannya seperti almarhum Sokran, almarhum Munawar, almarhum Blontang, Sapari, dan Ning Tini, bergabung setelah dinikahi 1974.

Diakui oleh Kartolo, awalnya mimpi itu tidak digubrisnya, namun setelah dirinya mengalami kejadian-kejadian yang dialaminya dalam mimpi-mimpinya tersebut, barulah dia percaya bahwa mimpi pada hakikatnya adalah perlambang akan sebuah peristiwa yang akan terjadi. ”Wis ta lah, ngalah-ngalahi Mama Lorent pokok’e,” ungkapnya sambil terkekeh-kekeh.

Dalam setiap perubahan hidup Kartolo, selalu didahului dengan mimpi. Diceritakannya, dirinya pernah bermimpi dilempar oleh tiga buah bungkusan yang terbungkus kain sarung. ”Ternyata tidak lama setelah itu, karir saya semakin melejit. Seperti nggathuk-nggathukne yo? Tapi itulah kenyataanya,” kenangnya.

Dikatakannya lagi, bahwa suatu hari dirinya pernah bermimpi mengenai hujan deras yang melanda tempat dirinya akan tampil melawak. Ternyata, tidak lama, ketika dirinya sampai di kawasan Dampit, Malang, hujan memang benar-benar turun deras, hingga akhirnya show-nya terpaksa ditunda.

Tidak hanya berkaitan dengan karirnya, tetapi mimpinya pernah berbuah duka. Diceritakan Kartolo, tentang firasat mimpi sebelum adiknya meninggal dunia. Dia bermimpi dimintai sumbangan.”Ternyata, setelah saya bertemu dan dimintai sumbangan salah satu yayasan, lah kok ga lama, saya dapat telepon dari Pasuruan. Adik saya meninggal karena kecelakaan,” kenangnya yang kali ini dengan suara pelan.

Kini Kartolo sudah menyandang haji. Gelar haji itu sudah disandangnya sejak tahun 2001 lalu. Ia mengaku sangat terlambat berhaji, karena baru menuaikan haji setelah usianya tua. Namun Kartolo mengaku tidak menyesal, karena toh bisa memberangkatkan haji kedua orang tuanya.

”Zaman itu, meski kami banyak job, tapi saya dahulukan untuk membahagiakan orang tua saya dulu,” aku bapak dari Gristianingsih dan Dewi Trianti.

Dengan menyandang status haji dan juga ‘orang ngetop’, ketika berada di kampungnya, diakuinya kerap warga lainnya menawarinya untuk menjadi pemimpin mereka, khususnya dalam hal ibadah.

Diceritakannya, dia kerap ditawari untuk menjadi imam dan khatib di masjid kompleksnya yang berada di kawasan Kupang Jaya. Akan tetapi, dengan guyonan dan dagelan pula, Kartolo menanggapi semua tawaran dari warga tersebut. ”Lek aku dadi imam, gelem ta peno terawih mulai jam pitu buyar jam papat isuk? Itu yang saya katakan pada mereka. Akhirnya mereka kan nge­per,” terangnya.

Selain itu, dia juga kerap diminta untuk mengisi ceramah. Dia juga menanggapi tawaran tersebut dengan guyonan. ”Lah mendhing saya ngisi jedhing dulu, baru ngisi ceramah,” ujarnya.

Memang, meski dia terbilang cukup tekun menjalankan ibadah agama, namun Kartolo mengaku masih belum pantas untuk menyandang status yang disebutnya sebagai pelawak dakwah. ”Kalau cuma nyinggung sedikit, gak apa-apa. Tapi kalau sampai serius ngomong soal agama, saya belum berani. Takut salah,” akunya.

Dia mengatakan, dua hal yang dihindari saat melawak adalah politik dan agama.”Itu masalah sensitif. Saya bukan politikus, juga bukan dai. Saya cuma pelawak yang pura-pura jadi politikus dan pura-pura jadi pendakwah,” kata Karlontong...eh..Kartolo.

Tuesday, July 21, 2009

Optimisme dari Ujung Pensil

Dengan dominasi hitam-putih, sebuah karya lukisan drawing tentu saja tampak lebih sederhana jika dibandingkan dengan lukisan dengan media cat minyak atau akrilik. Tetapi, jangan salah, ternyata lukisan drawing tidak sesederhana itu. Seperti yang dijelaskan oleh Mufi Mubaroh, seorang perupa kelahiran Pandeglang, Banten 27 tahun silam.

Menurutnya, melukis drawing tidak lebih rumit jika dibandingkan dengan melukis memakai oil atau acrylic. Baginya dalam melukis drawing, seorang seniman juga harus bergelut dengan unsur-unsur drawing, seperti shadow, gradasi, balance, dan volume. Ternyata, ornamen-ornamen itulah yang membuat sebuah lukisan drawing tampak hidup.

Nyatanya, memang itulah yang menjadi kelebihan pada karya-karya perupa lulusan Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya tersebut. Dengan cermatnya perhitungan shadow, gradasi, balance, dan volume membuat karya-karyanya tampak hidup dan memiliki karakter yang kuat.

Dengan total 20 karya lukisan drawing yang memang hampir seluruhnya berukuran besar, Mufi Mubaroh menggelar pameran lukisan di Orasis Gallery. Pameran yang diselenggarakan mulai 15-24 Juli 2009 tersebut menampilkan karya-karya lukisan drawing Mufi Mubaroh yang dibuat antara periode 2007-2009.

Meski diakuinya, pada awal karirnya sebagai perupa, dia memang menggunakan oil sebagai media untuk melukis. Akan tetapi, setelah tahun 2003, khususnya saat menjelang tugas akhir kuliahnya, dia mencoba mencari media alternatif, yang murah tapi menghasilkan karya yang tidak kalah dengan oil atau acrylic, dan akhirnya pilihannya jatuh pada drawing. ”Maklum, mas, waktu itu harga oil atau acrylic, benar-benar sedang melangit,” tukasnya.

Setelah melihat hasil karya lukisan drawingnya yang pertama di tahun 2003 tersebut, kemudian muncul kepercayaan dirinya untuk melanjutkan melukis drawing. ”Jadilah akhirnya sampai sekarang,” katanya.

Perkembangan drawing sendiri sebenarnya tidak sepesat lukisan painting. Buktinya, di awal 2007, ketika painting kontemporer tengah mendominasi segala wacana dalam seni rupa, kehadiran Mufi dengan lukisan drawingnya di sebuah pameran yang bertempat di Jogjakarta, sempat menjadi pusat perhatian dari beberapa kalangan, baik seniman, maupun pengamat. Oleh karena itulah pada akhirnya dalam ajang tersebut, dirinya malah mendapatkan penghargaan sebagai lukisan terbaik dalam ajang Muara Seni Jogjakarta, 2004..

Itulah, yang menjadi dasar baginya untuk kemudian beranggapan bahwa drawing ini bisa dikatakannya merupakan semacam gerakan pemberontakan terhadap dominasi painting. Baginya, untuk mencapai detail dari sebuah objek, dengan menggunakan pensil dan charcoal (sejenis arang) pun juga bisa.

Sedangkan, mengenai tema karya, perupa yang juga pernah menjadi finalis dari Jakarta Art Award, 2008 tetrsebut lebih banyak berbicara tentang kekecewaan, khususnya terhadap segala bentuk realitas hidup yang dialaminya. Kekecewaan yang sifatnya lebih personal memang terlihat jelas dalam karya-karyanya.

Meski demikian, kekecewaan itu oleh Mufi diolah sedemikian rupa hingga akhirnya menjadi sebuah rasa optimisme.”Jadi, kekecewaan yang saya alami adalah kekecewaan dari seorang korban yang selalu ingin bangkit kembali,” ujarnya.

Oleh karena itulah, meski sarat akan nuansa kekecewaan, namun, diakui oleh Mufi, karya-karyanya lebih banyak menawarkan solusi dan harapan. Dia mencontohkan pada beberapa karyanya, Mufi banyak memakai simbol optimisme, yakni gambar ‘plus’. ”Gambar tersebut menurut saya lebih bermakna pada rasa optimisme dan harapan di tengah kekecewaan,” ujarnya.

Oleh karena itu, Mufi juga menganggap karya-karyanya adalah seperti kamus, buku, yang memuat berbagai kenangan dan cara berinstrospeksi, merenung, dan kritik diri terhadap berbagai kehidupan dan tentu saja, sejumlah kekecewaan.

Kini, perupa yang tengah berupaya untuk menciptakan sebuah kreatifitas baru, yakni menggabungkan antara teknik drawing yang menggunakan pensil, dengan teknik painting yang menggunakan oil.

Dengan begitu, harapannya, teknik drawing akan menjadi semakin populer dan banyak mengisi ruang-ruang pamer di gallery yang ada di Surabaya

Surabaya Post,
Minggu, 19 Juli 2009

Wednesday, February 11, 2009

1000 Hari memperingati wafatnya Pramoedya Ananta Toer


6 Februari 2009 tepat 84 tahun yang lalu, Pramoedya Ananta Toer, yang dikenal sebagai pengarang beraliran realisme sosialis dilahirkan di Blora, Jawa Tengah.

Pramoedya, di era 50an, mulai muncul pertama kali dengan karyanya yang berjudul Keluarga Gerilya. Dari karyanya ini, Pram, mulai menempati posisi penting sebagai pengarang Indonesia. Karya yang diterbitkan oleh Balai Pustaka menjadi fenomenal karena karyanya ini merupakan karya terbitan Balai Pustaka yang menyisipkan dialog Bahasa Jawa.

Balai Pustaka yang merupakan penerbitan yang didominasi oleh karya-karya yang menggunakan bahasa Indonesia tingkat tinggi, namun karya Pram yang menyisipkan Bahasa Jawa pun ternyata masih dapat diterima. “Inilah yang membuat nama Pram menempati posisi penting dalam kepengarangan Indonesia”, ujar, Maman S. Mahayana, seorang kritikus sastra Indonesia.

Pada awal kepengarangannya, Pramoedya terlahir sebagai pengarang nasionalis. Karya-karyanya berisikan letupan-letupan yang membakar semangat nasionalisme pembacanya. Dengan getolnya Pram membela kebebasan berekspresi seniman-seniman Indonesia. Baginya seorang seniman, sastrawan harus benar-benar terbebas dari apapun yang membelenggu kreativitas mereka untuk berkarya.

Hingga masuk periode 60an, Pram kemudian menggabungkan diri dalam Lembaga Kesenian Rakyat (Lekra). Dalam Lekra, praktis Pram hanya menelorkan sebuah karya fiksi saja. Itu pun hanya sebuah cerita pendek. Cerita pendek yang olehnya diberi judul Paman Martil itu ditulis memang merupakan untuk kado ulang tahun PKI. Oleh Maman, cerpen ini diakuinya merupakan karya terburuk sepanjang sejarah karya Pram. “Memang, sepanjang dia tergabung dalam Lekra, praktis proses kreatifnya dalam menulis fiksi terhenti total”.

Selama aktif di Lekra, Pramoedya memang lebih banyak menulis esai-esai yang bersifat propagandis. Semangat ideologisnya yang menggebu-gebu, membuat kreativitasnya untuk menulis karya sastra seolah mandeg.

Politik Adalah Panglima, merupakan jargon yang cukup dikenal. Jargon ini merupakan simbol dari seniman Lekra yang mengedepankan ideologi dalam sebuah karya sastra. Dari sinilah kemudian muncul semacam perlawanan dari sesama seiniman yang menganggap seni khususnya sastra harus terbebas dari ideologi yang bersifat politis, apapun itu bentuknya.

Seniman yang melakukan perlawanan terhadap Lekra adalah seniman yang menamakan diri mereka sebagai Manifesto Kebudayaan. Menurut kelompok ini, seni ataupun sastra sebagai bagian dari kebudayaan, adalah wujud perjuangan untuk menyempurnakan kondisi hidup manusia. Mereka tidak menganggap sebuah kebudayaan berada di atas sektor kebudayaan lain. Inilah yang oleh mereka sebut sebagai Humanisme Universal.

Kendati demikian, hubungan baik terus dijalin baik oleh Pram sendiri, sebagai seniman Lekra, maupun oleh seniman-seniman lain, baik itu Goenawan Mohammad maupun dari Mochtar Lubis sendiri, yang dengan gencarnya menolak dominasi Lekra.

Mengenai ini, Maman menjelaskan bahwa Mochtar Lubis bahkan masih sempat mengunjungi Pram di Pulau Buru. “Meski, memiliki pendapat yang berseberangan, seniman-seniman itu masih berhubungan baik. Mochtar Lubis, misalnya, dia bahkan memberi mesin ketik pada Pram waktu di Buru”, terangnya.

Pasca Pulau Buru, Pram semakin melejit. Tetralogi mahakaryanya membuktikan bahwa Pram memang pengarang berkualitas. Ini masih ditambah dengan beberapa penghargaan diterimanya. Di antara sekian banyak penghargaan, ada satu penghargaan yang menarik. Magsasay. Penghargaan yang diberikan oleh yayasan Ramon Magsasay Filipina kepada Pramoedya atas prestasinya dalam mengangkat harkat dan martabat manusia.

Menariknya, kurang lebih 26 tokoh sastrawan melayangkan surat protes, yang memeprtanyakan kelayakan Pram menerima penghargaan tersebut. Oleh Maman, hal ini dijelaskan bahwa sebenarnya alasan seniman tersebut melayangkan protes bukan karena mereka meragukan kualitas Pram. “Mereka mempertanyakan mengenai Pram yang dulunya pernah membakar buku-buku karya seniman lain, kenapa kok bisa dapet penghargaan?”, terangnya.

Terlepas dari berbagai kontroversi itu, Pramoedya tetap merupakan pengarang yang berkualitas. Dirinya bisa membuktikan bahwa realisme sosialis tidak hanya mengedepankan karya-karya sastra propagandis, karya–karya komunis yang dianggap kiri, namun juga mengedepankan estetika sastra yang membuat karya-karya memiliki kekuatan tersendiri.

Selain itu, kekuatan karya Pram juga menonjol pada fakta-fakta sejarah yang diungkapkannya melalui karyanya. Mengenai hal ini Maman menambahkan bahwa bagi Pram, sejarah merupaka faktor penting bagi proses kreatif dari seorang pengarang. “Bagi Pram, Sejarah itu penting. Sangat penting bahkan”, tambahnya.